HARIAN NEGERI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat memastikan penanganan eceng gondok di perairan Waduk Saguling akan dilakukan maksimal hingga tuntas.Pasalnya, peningkatan populasi nyamuk di sekitar permukiman tidak terkendali. Selain itu eceng gondok pun berdampak kurang baik terhadap ekonomi masyarakat.Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, persoalan eceng gondok sudah lama menjadi keluhan warga karena dampaknya yang meluas, mulai dari gangguan aktivitas perairan hingga persoalan kesehatan lingkungan.“Alhamdulillah, hari ini agenda kami melaksanakan pembersihan eceng gondok yang selama ini menjadi masalah dan sering dikeluhkan warga karena sudah sangat mengganggu,” ujar Jeje di lokasi.Berdasarkan pemetaan, eceng gondok tersebar di tujuh titik dari total sekitar 5.000 hektare area Waduk Saguling, dengan konsentrasi terpadat di sekitar Jembatan Ciminyak, Desa Rancapanggung.“Kalau dilakukan secara manual akan memakan waktu sangat lama.

Nanti dibantu sekitar empat ponton,” katanya.Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Pemkab Bandung Barat, Rini Sartika, mengatakan total sebaran eceng gondok di kawasan Waduk Saguling mencapai sekitar 120 hektare.“Secara bertahap kita akan menyisir area yang dekat dengan permukiman warga, terutama yang disinyalir menjadi lokasi berkembangnya nyamuk dalam jumlah besar,” katanya.Ia menambahkan, penanganan eceng gondok berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas aktivitas perairan sekaligus mencegah dampak lanjutan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar waduk.“Selain pemberantasan wabah nyamuk, kita juga dalam rangka berpartisipasi menjaga stabilitas energi.

Sekarang krisis listrik, wabah nyamuk, aktivitas air, dan eceng yang oenyebarannya masif,” tandasnya.Sementara itu, Kepala Desa Rancapanggung, Asep Sukmajaya, mengungkapkan dampak penyebaran nyamuk akibat eceng gondok dirasakan oleh sedikitnya lima hingga enam RW di wilayahnya.“Kurang lebih di 5-6 RW kita kena dampak nyamuk itu. Tapi alhamdulillah kita juga sudah kerjasama dengan Indonesia Power, dan Dinkes KBB untuk penanganan,”katanya.

(KRO)