Penulis: Sunano (Penulis Buku Muslim Tionghoa di Yogyakarta)

Joao Angelo De Sousa Mota, tutur bicara dan penjelasannya tenang saat diwawancarai dalam waktu terpisah oleh dua wartawan senior, Bambang Harymurti dan Uni Lubis. Dua wawancara dalam model podcast itu kemudian dipublikasikan di kanal youtube mereka.

Baca Juga:
Pilkada

Meski orangnya tenang, Joao sudah membuat heboh jagat Indonesia dua kali. Pertama, ketika 11 Agustus 2025 menyatakan mundur dari jabatan direktur PT Agrinas Pangan Nusantara, BUMN yang bergerak diurusan ketahanan pangan, khususnya skala besar di sektor padi, jagung, ubi, dan lainnya. pujian langsung memenuhi jagat medsos, sebagai salah satu contoh karakter pemimpin yang bertanggung jawab.

Kedua, ketika ternyata kemunduran tidak diterima, malah ditugasi menggarap pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Hebohnya ketika tiba-tiba terdengar kabar impor sebanyak 105 ribu mobil pikap dari India untuk kendaraan operasional koperasi. Sontak langsung menjadi viral karena kebijakan koperasinya sendiri belum jelas. Selain itu, ternyata PT Agrinas Pangan Nusantara juga menjadi pelaksana pembangunan 83 ribu unit KDMP beserta isinya dengan paket biaya 1,6 miliar rupiah. Bangunan megah di setiap desa yang sebagian kecil lebih megah dari kantor desanya sendiri.

Dan juga, penjelasan dalam podcast dengan Bambang Harymurti, juga selama 2 tahun awal sebagai operator awal KDMP setelah selesai pembangunan. Jelas, pucuk pimpinan awal KDMP nantinya dipegang oleh Joao. Nama baru di dunia koperasi yang tidak masih dipertanyakan apakah menguasai konsep dan pelaksanaan koperasi.

Kesan pertama memang diragukan kemampuannya membangun koperasi mikro skala nasional. Bayangkan saja, tiba-tiba serentak membangun puluhan ribu unit koperasi untuk gerai retail, gudang pupuk, gudang hasil pangan, klinik dan apotek. Kopdes ini akan didukung 1 truk, 1 pickup, dan 2 motor tiap unit koperasi.

Tentunya berharap  pada Joao, seorang profesional dalam bidang konstruksi, pertanian, peternakan, serta industri kreatif mampu membangun unit koperasi skala bisnis. Transformasi mengelola bisnis dengan corporate cultur jelas harus mengendalikan SDM pengurus koperasi yang tanpa kriteria jelas. Sejarah membuktikan kegagalan koperasi karena tidak ada SDM yang kompeten mengelola. Pimpinan pusat Agrinas tentu orang profesional, tapi pengelola di tingkat desa?

Mengenai Joao, tentunya berbeda dengan kesan kepada Margono, kakeknya Prabowo, ambtenaar Hindia Belanda sebagai inspektur untuk urusan koperasi. Bahkan sampai menulis buku “10 tahoen koperasi”. bahkan di era akhir penjajahan Belanda dikenal sebagai Bapak Koperasi. Atau tokoh pemikir dan perumus ekonomi kerakyatan, Bapak Koperasi Mohammad Hatta. Era Soeharto mengenal kita mengenal Bustanil Arifin, dikenal sebagai orang kuat dengan tangan dingin merintis KUD sampai besar.

Tapi mungkin dengan menunjuk seorang profesional, dan ceritanya sendiri di podcast dengan BHM adalah teman Prabowo sejak di Timor Timur, Joao menjadi kepercayaan Presiden mewujudkan janji kampanye dan asta cita.

Keluarga Joao Angelo merupakan keluarga birokrat kritis dan pengusaha yang menjadi tokoh sentral sejak operasi Seroja dilakukan di Timor Timur tahun 1975. Ayahnya yang seorang camat ditangkap dan dibuang ke Angola karena pro Indonesia. Sementara paman Joao malah menjadi salah satu sekjen Fretilin.

Sikap ayahnya yang pro Indonesia dalam operasi Seroja, membuat Joao sangat dekat dengan banyak prajurit Kopassus. Apalagi rumahnya bersebelahan dengan markas Kopassus di Dili. Pada setiap kompi Parako yang ditugaskan ke Timor Timur singgah di asrama bekas Cuartel General atau Markas Besar Tropas di Taibesi. Tropas adalah tentara Timor Portugis atau TNI di Indonesia.

Salah satu Kompi Parako yang menempati bekas markas Tropas yang dipimpin Lettu Inf. Muchdi PR. Sejak itu, semua satuan Kopassus yang ke Timor Timur selalu singgah di markas Tropas. Ada juga Subagyo HS, Luhut Panjaitan, dan yang sering disinggung adalah Letda Inf. Prabowo Subianto. Otomatis keluarga Joao sangat dekat dengan pasukan Kopassus. Joao Angelo sendiri juga menjadi bagian dari program kontra intelijen untuk masuk ke wilayah Fretilin. Kota Dili, meskipun sudah berhasil dikuasai pada awal tahun 1976, tetapi belum sepenuhnya aman. Gerakan intelijen Fretilin masih sangat kuat.

Arah Koperasi Desa Merah Putih

Gerakan koperasi di Indonesia bukan hal baru. Sepanjang sejarah sejak kesuksesan koperasi model Raiffeisen mengenalkan koperasi kredit berbasis swadaya anggota, langsung ditiru di Indonesia untuk menyelamatkan jeratan rentenir dan lintah darat. Konsep koperasi kredit ini yang menginspirasi Margono Djojohadikusumo untuk menyelamatkan rakyat Indonesia dari bencana krisis ekonomi global tahun 1930an. Sebagai pejabat tinggi di jawatan Algemene Volkscredietbank.

Waktu itu belum zaman digital, jadi ketika Sumitro saat diajak keliling ayahnya, Margono melihat penduduk desa mengantre panjang untuk mengajukan kredit hanya sekedar untuk makan. Sedangkan masa kemarau, lumbung desa, semacam kredit non natura menjadi dewa penyelamat rakyat dari kelaparan. Ketika sekarang semua serba digital, termasuk pinjol sebagai perwujudan rentenir baru, kita tidak melihat orang mengantre pinjaman. Tetapi setiap rumah tangga miskin sebenarnya sedang terserang penyakit kronis pinjol yang menjerat sampai leher.

Pekerjaan ayahnya, Margono menginspirasi Sumitro Djojohadikusumo menulis disertasi “Het Volkscredietwezen in de Depresie” di Universitas Rotterdam, yang selesai akhir tahun 1942. Disertasi ini kemudian diterjemahkan LP3ES dengan judul “Kredit Rakyat Dimasa Depresi”. Buku yang jadi pegangan Menteri Keuangan Purbaya saat menjelaskan solusi keuangan mikro kepada Presiden Prabowo.

Namun pengembangan Kopdes Merah Putih sepertinya mencoba menduplikasi model Rochdale. Koperasi Rochdale atau Rochdale Society of Equitable Pioneers, didirikan pada tahun 1844 di Rochdale, Inggris, oleh 28 buruh pabrik sebagai koperasi konsumen modern pertama yang sukses. Berbasis musyawarah, pengembangan koperasi konsumen ini akhirnya terus membesar.

KDMP skemanya murni bisnis. Mereka berjualan murni untuk bersaing dengan toko sembako dan toko kelontong milik masyarakat. Karena jika membandingkan dengan model minimarket alfamart atau indomaret, hanya berdiri di jalan-jalan utama ibukota kecamatan. Tidak sampai masuk ke desa-desa. Jadi Kopdes Merah Putih nantinya akan bersaing dengan warung-warung milik masyarakat. Apalagi ketika koperasi berjalan, didukung kebijakan pemerintah dengan lisensi, subsidi, monopoli, dan proteksi.

Kembali kepada Joao Angelo, apakah mampu mewujudkan mimpi kemandirian ekonomi desa dengan berdirinya Kopdes Merah Putih? Sebuah gerakan ekonomi komando, sepenuhnya dikendalikan pemerintah, dan aktivitasnya homogen. Dawam Raharjo mensyaratkan kalau koperasi mau berhasil dan berkembang harus dipegang oleh orang kuat. Apakah profesionalisme Joao merupakan orang kuat?


Pondok Pinang, 29 Maret 2026