Penulis: Didik J Rachbini (Ekonom/Rektor Universitas Paramadina)

Sebelum M Bambang Hartono wafat beberapa bulan yang lalu, Universitas Paramadina ‎mengundang entreprenuer Victor Hartono untuk memberi kuliah umum.  Victor Hartono ‎adalah pemimpin Group Jarum yang sangat besar dan sekaligus pewaris Bambang dan ‎Budi Hartono. Narasi ceramahnya luar biasa dan mengungkan kisah perjalanan panjang ‎Group Jarum yang jatuh bangun sejak tahun 1927 dengan berbisnis mercon atau petasan ‎untuk hari-hari besar.

Saya sebagai rektor menilai bahwa pengalaman pelaku bisnis ‎sekaliber Victor Hartono penting untuk dibagikan kepada bagi generasi ‎muda.  Pemahaman tentang dunia usaha yang kompleks, suksesi dan proses ‎regenerasinya dalam bisnis keluarga patut menjadi pelajaran berharga bagi calon ‎pemimpin masa depan.  Menghadirkan sosok seperti Victor Hartono adalah langkah ‎strategis untuk membagikan kisah nyata tentang keberlangsungan bisnis lintas generasi.‎

Sejaran bisnis yang berlangsung sejak 1927 melahirkan konglomerasi, yang banyak ‎menyerap tenaga kerja dan jaringan bisnis yang sangat luas. Tenaga kerja langsung dari ‎group ini paling tidak mencapai ratusan ribu (100 ribu - 120 ribu tenaga kerja. Di Bank ‎BCA terserap tenaga kerja tidak kurang dari 25 ribu - 30 ribu karyawan. Industri rokok ‎bisa mencapai 70 ribu tenaga kerja. Yang lain seperti industri elektonik, jasa-jasa, e-‎commerce bisa mencapai 10 ribu karyawan. Sementara itu, tenaga kerja tidak langsung ‎bisa mencapai jutaan tenaga kerja mulai dari rantai pasok tembakau dan cengkeh (petani ‎tembakau, petani cengkeh, pengepul dan distributor bahan baku dan lainnya). Jaringan ‎Group jarum jugta meluas mulai dari distribusi ritel, warung, toko, agen rokok, pedagang ‎kecil dan lainnya. ‎

Setelah generasi Bambgang Hartono dan Budi Hartono, Victor Hartono adalah generasi ke-‎‎9 keluarga besar Hartono Jarum Group. Dalam kuliah umum tersebut Victor menjelaskan ‎sejak tahun 1927, bisnis keluarga ini belasan kali jatuh bangun dengan pengalaman pahit ‎yang sangat panjang tetapi menjadi menjadi pelajaran penting untuk terus berubah dan ‎berinovasi.  Industri lama yang  yang digeluti hilang berganti yang baru, industri saat ini ‎belum tentu relevan dan bisa terus berjalan  di masa mendatang.  Kondisi politik dan gejo ‎internasional biasanya menjadi faktor yang menentukan jatuh dan bangun dunia usaha ‎atau secara khusus keberlangsungn group ini. ‎

Victor menjelaskan bahwa bisnis awal berdagang mercon habis sama sekali karena faktor ‎politik labil pada masa peralihan belanda ke Jepang dan masa kemerdekaan. Praktis ‎bisnis keluarga pada masa awal tahun 1930-an dan 1940-an hancur karena perubahan ‎politik. Victor menjelaskan sejarah sang kakek, Oei Wie Gwan yang merintis usaha pabrik ‎mercon dengan merek dagang Cap Leo bangkrut berkali-kali karena kecelakaan ledakan, ‎perampokan, hingga larangan produksi saat pendudukan Jepang pada 1942.  Setelah itu ‎bisnis keluarga Hartono beralih masuk perdagangan minyak kacang. Namun, dengan ‎hadirnya kelapa sawit yang lebih efisien, usaha itu pun bangkrut juga oleh dinamika pasar ‎sawit yang efisien dan berkembang pesat.‎

Selain tantangan eksternal, bisnis keluarga juga ada tantangan internal, yakni dari ‎keluarga. Tali temali keluarga yang banyak jumlahnya tidak mungkin bisa menjalankan ‎bisnis semuanya.  Hambatai kritis terhadap bisnis acap kali datang dari dalam keluarga. ‎Beragam perselisihan mulai dari masalah arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian ‎dividen yang tidak adil disebutnya sebagai bom waktu yang bisa menggoyahkan bisnis ‎keluarga.  Tetapi pada saat ini ada semacam “Dewan Syuro” di dalam group Jarum yang ‎memilih pemimpin secara selektif sehingga menemukan pemimpin bisnis yang bagus dan ‎pintar menjalankan bisnis. Di sinilah bisnis warisan Bambang Hartono dan Budi Hartono ‎terus berjalan dan berkembang. ‎

Jadi dalam rangka menjaga keberlanjutan bisnis keluarga, Victor menjelaskan fungsi ‎‎“Dewan Syuro” tersebut. Bambang Hartono tidak boleh mengajukan anaknya untuk ‎memimpin, begitu juga Budi Hartono. Anggota Dewan Syuro yang lain yang harus ‎mengajukan agar obyektif si calon benar-benar bisa memimpin.  Di dalam group ada ‎struktur kepemimpinan yang jelas, bahwa pemimpin utama sebaiknya hanya satu agar ‎arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisir. Dengan cara itu,  pembagian ‎peran antar anggota keluarga terbagi secara adil. Kekompakan internal terjaga dengan ‎semangat keterbukaan bersama. ‎

Itulah strategi memperkuat daya saing jangka panjang dari group ini. Meskipun Bambang ‎Hartono wafat tetapi generasi selanjutnya siap meneruskan. Regenerasi yang solis adalah ‎kunci sukses dalam bisnis keluarga. Menurut Victor, regenerasi tidak boleh berhenti pada ‎pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca ‎zaman dan terus berjalan ke generasi berikutnya.‎

Zakat Fitrah