HARIAN NEGERI - Indonesia resmi menorehkan tinta emas dalam sejarah pembangunan nasional dengan pencapaian swasembada pangan pada tahun 2025. Keberhasilan ini tergolong luar biasa karena diraih hanya dalam kurun waktu satu tahun, jauh melampaui target awal pemerintah yang dipatok selama empat tahun. Momentum bersejarah ini dikukuhkan melalui Panen Raya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang sekaligus menjadi simbol berakhirnya ketergantungan bangsa terhadap impor pangan pokok.
Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya di tengah hamparan sawah Karawang, menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah harga mati bagi kedaulatan sebuah negara. Menurutnya, kemerdekaan sejati tidak akan pernah terwujud selama urusan perut rakyat masih digantungkan pada belas kasihan negara lain. Bagi Presiden, ketersediaan pangan produksi dalam negeri adalah fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat dan bermartabat di mata dunia.
Baca Juga:
Bonus Rekor! Presiden Prabowo Kucurkan Rp465 Miliar untuk Pahlawan Olahraga SEA Games ThailandData menunjukkan penguatan signifikan di sektor agraris, di mana produksi beras nasional sepanjang 2025 menembus angka 34,71 juta ton. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 13,36 persen atau sekitar 4,09 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan produksi tersebut menghasilkan surplus sebesar 3,52 juta ton, yang secara otomatis menutup pintu impor beras konsumsi sepanjang tahun berjalan.
Ketahanan pangan nasional semakin kokoh dengan catatan stok beras di gudang Perum Bulog yang mencapai 3,24 juta ton pada akhir tahun, bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di angka 4,2 juta ton. Cadangan yang melimpah ini memberikan pemerintah ruang gerak yang lebih luas dalam menjaga stabilitas harga di pasar domestik serta memastikan pasokan tetap aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Tak hanya soal angka produksi, keberhasilan ini juga membawa angin segar bagi kesejahteraan para petani. Nilai Tukar Petani (NTP) melonjak ke angka 125,35, yang merupakan rekor tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Di sisi lain, kinerja ekspor pertanian juga menunjukkan taji dengan nilai mencapai Rp629,7 triliun pada periode Januari hingga Oktober 2025, membuktikan bahwa produk tani Indonesia kini semakin kompetitif di kancah internasional.
Pemerintah memastikan bahwa pencapaian di tahun 2025 ini bukanlah garis finis, melainkan batu pijakan untuk memperluas swasembada ke komoditas strategis lainnya. Fokus ke depan adalah menjaga konsistensi produksi dan memastikan bahwa dampak positif dari kebangkitan sektor pertanian ini dapat dirasakan secara merata oleh seluruh petani, nelayan, dan masyarakat di pelosok negeri.

Komentar