HARIAN NEGERI - Riau, Kamis (q9/3/2026), Muktamar Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) tahun 2025 telah berlalu, tetapi semangatnya masih terus hidup. Memasuki tahun 2026, arah gerakan mulai terasa lebih nyata dan tidak hanya di pusat, tetapi juga sampai ke daerah, termasuk di Riau.

Di bawah kepemimpinan Kevin Prayoga, PII menaruh fokus pada dua hal penting, yaitu pertama, memperkuat struktur dan memperdalam kaderisasi. Artinya, PII ingin kokoh di dalam, sekaligus berdampak ke luar. Kedua, Kaderisasi tidak lagi hanya soal pelatihan atau forum diskusi, tapi juga tentang turun langsung ke masyarakat.

Hal ini terlihat dari langkah yang diambil oleh Komandan Brigade PII, Dandimas Pahamswa. Ia mendorong Brigade untuk hadir langsung di tengah masyarakat, memahami kebutuhan mereka, lalu bergerak memberikan solusi sederhana tapi berarti.

Staff Korpus Brigade, Akbar Jihad menjelaskan bahwa salah satu wujud nyatanya terlihat di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) Nurul Hidayah, yang berada di Kampung Pangkalan Pisang, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, tepatnya di Jl. Raya Perawang–Buton Km. 48 / Km. 11 Buatan. 

“Di tempat sederhana ini, Brigade PB PII menyalurkan bantuan Al-Qur’an sebagai bagian dari program satu juta Al-Qur’an untuk lembaga pendidikan non-formal. Madrasah yang dibina oleh Ustadz Agus Nohfrizal ini menjadi salah satu titik penting dari gerakan tersebut. Di sana, anak-anak belajar mengaji dengan segala keterbatasan,” ujar Akbar, Kamis (19/3/2026).

“Kehadiran Brigade PB PII membawa semangat baru dan bukan hanya berupa mushaf Al-Qur’an, tetapi juga perhatian dan kepedulian,” lanjutnya.

Akbar Jihad menyampaikan bahwa gerakan ini adalah bentuk keseriusan Brigade dalam mendukung kepemimpinan Kevin Prayoga. Ia menegaskan bahwa kaderisasi harus melahirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan hanya kuat di internal organisasi.

“Kalau kaderisasi hanya berhenti di dalam, kita kehilangan makna. Justru ketika kader turun ke masyarakat, di situlah mereka belajar dan memberi dampak,” ungkapnya.

Diketahui gerakan ini juga mendapat dukungan dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), yang melihat program ini sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Menurut Akbar bahwa Apa yang dilakukan di MDTA Nurul Hidayah ini mungkin terlihat sederhana. Tapi dari tempat seperti inilah gerakan besar dimulai. Dari kampung kecil di Siak, semangat itu menyebar dan menjadi bagian dari gerakan PII nasional.

“Pada akhirnya, Brigade PB PII ingin bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dengan hadir, peduli, dan membantu apa yang dibutuhkan. Dari satu madrasah, satu kampung, lalu meluas ke banyak tempat hingga benar-benar menjadi gerakan untuk Indonesia emas 2045,” tutupnya. 

Zakat Fitrah