Penulis : Fera Della Taskia

Bicara soal pendidikan di Indonesia, kita tidak bisa melupakan sosok Ki Hadjar Dewantara. Beliau bukan hanya Bapak Pendidikan Nasional, tetapi juga pemikir yang punya pandangan unik tentang hakikat manusia. Menurut Ki Hadjar, manusia bukanlah kertas kosong atau bejana yang harus diisi dengan pengetahuan. Sejak lahir, manusia sudah membawa potensi dan kodrat merdeka yang melekat pada eksistensinya.

Lebih lanjut, Ki Hadjar menjelaskan bahwa manusia dikaruniai tiga daya jiwa yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta berkaitan dengan akal dan pikiran. Rasa berkaitan dengan perasaan dan emosi. Karsa berkaitan dengan kemauan dan kehendak. Ketiga daya ini harus berkembang secara seimbang dan selaras agar manusia bisa mencapai kesempurnaan hidup.

Yang menarik, Ki Hadjar dengan tegas membedakan antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran berkaitan dengan kemerdekaan lahiriah, yaitu penguasaan keterampilan dan pengetahuan teknis. Sementara pendidikan berkaitan dengan kemerdekaan batiniah, yaitu pembentukan karakter dan budi pekerti. Keduanya saling menopang dan tidak bisa dipisahkan.

Dari segi cara belajar, Ki Hadjar menolak model pendidikan yang menggunakan perintah, paksaan, dan larangan. Menurutnya, cara-cara tersebut justru mematikan kodrat alam seorang anak. Sebagai gantinya, ia mengajukan metode Among dengan tiga semboyan terkenal. Ing ngarsa sung tuladha artinya di depan memberi teladan. Ing madya mangun karsa artinya di tengah membangkitkan semangat. Tut wuri handayani artinya di belakang memberi dorongan.

Dalam praktiknya, peserta didik ditempatkan sebagai pusat pendidikan. Guru berperan sebagai pamong atau pemandu yang membimbing, bukan sebagai komandan yang memerintah. Guru berdiri di belakang dan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri. Guru hanya bertindak ketika anak benar-benar membutuhkan atau dalam keadaan bahaya.

Lalu apa tujuan akhir dari pendidikan menurut Ki Hadjar? Tujuan tertinggi adalah terciptanya manusia yang merdeka lahir dan batin. Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, tetapi bersandar pada kekuatan sendiri. Selain itu, pendidikan harus memanusiakan manusia dan berakar pada kebudayaan bangsa.

Pada akhirnya, mendidik menurut Ki Hadjar berarti mengakui bahwa di hadapan kita bukanlah bejana kosong. Yang kita hadapi adalah seorang subjek merdeka yang sedang dalam perjalanan menjadi dirinya sendiri. Tugas pendidik hanyalah menuntun, bukan memaksa. Karena pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang membebaskan, bukan yang mengungkung.