HARIAN NEGERI - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perguruan tinggi memegang peranan krusial sebagai motor penggerak kemandirian nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dalam pertemuan strategis bertajuk Taklimat Presiden RI 2026 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/01/2026), Kepala Negara meminta seluruh pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk menyelaraskan visi pendidikan dengan kebutuhan daya tahan bangsa.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan bahwa Presiden menaruh perhatian besar pada pergeseran peta kekuatan dunia yang kian dinamis. Menurutnya, Indonesia tidak punya pilihan lain selain memperkuat kaki sendiri agar mampu bertahan dan bersaing. Dalam visi ini, kampus diharapkan tidak sekadar menjadi lembaga edukasi, melainkan lokomotif utama dalam penguasaan sains dan teknologi mutakhir.
Presiden Prabowo menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah akan menjadi sia-sia jika tidak dikelola oleh sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Oleh karena itu, penguatan riset dan inovasi di lingkungan akademik menjadi harga mati. Perguruan tinggi dituntut untuk mencetak tenaga ahli yang mampu menjawab tantangan zaman dan membawa Indonesia keluar dari ketergantungan teknologi asing.
Namun, kecerdasan intelektual saja dianggap tidak cukup. Di hadapan para rektor, Presiden juga menyoroti persoalan menahun seperti praktik korupsi, kebocoran anggaran negara, hingga fenomena manipulasi faktur atau under invoicing. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa dunia pendidikan harus lebih serius dalam menanamkan nilai-nilai integritas dan jiwa nasionalisme kepada para mahasiswanya.
Sebagai penutup, pesan Presiden ini menjadi refleksi mendalam bagi dunia akademik untuk melakukan transformasi besar-besaran. Kampus kini memikul beban ganda: melahirkan inovator yang menguasai teknologi tinggi sekaligus mencetak pemimpin masa depan yang memiliki keberpihakan penuh pada kepentingan rakyat dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Komentar