HARIAN NEGERI - Jakarta, Senin (26/1/2026), Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Jakarta Periode 2024-2026 resmi melaksanakan kegiatan Leadership Advance Training dan Pendidikan Instruktur Dasar (LAT–PID) Jakarta 2026 di Balai Besar Pelatihan dan Pengembangan Masyarakatan Desa dan Daerah Tertinggal. 

Kegiatan ini dilaksanakan pada 24 Januari hingga 2 Februari 2026. Dengan mengusung tema “Menyiapkan Kader Paripurna sebagai Instruktur Penggerak Peradaban: Pelajar Madani Menolak Perundungan dan Menumbuhkan Solidaritas Universal".

Pembukaan dihadiri oleh Dr. M. Khoirul Huda, M.Pd. (Staf Khusus Menteri Desa), Dr. Ahed Abu Alatta (Direktur YPSP), serta Yulisa Maharani, S.H., M.H. (Perwakilan LPSK).

Ketua Umum PW PII Jakarta, Imaduddin Al Fanani, dalam sambutannya menyampaikan bahwa persoalan pelajar hari ini semakin kompleks, mulai dari kekerasan, pelecehan seksual, hingga perundungan.

“Akar persoalan tersebut terletak pada hilangnya rasa aman dan terkikisnya nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial pelajar,” ujar Imaduddin. 

Ia juga menyinggung kondisi global, khususnya tragedi kemanusiaan di Palestina. Menurutnya, terdapat benang merah antara persoalan nasional dan global, yakni krisis etika kemanusiaan.

“Karena itu, penguatan solidaritas universal harus terus digalakkan dalam proses perkaderan pelajar,” tambah Imaduddin.

Dalam arahannya, Dr. M. Khoirul Huda, M.Pd. menegaskan bahwa saat ini banyak peluang yang dapat dikerjakan oleh pelajar.

“Mendorong PII agar mampu membaca dinamika zaman serta memaksimalkan peran alumni sebagai mentor dalam proses pembinaan kader,” jelas M. Khoirul Huda.

Sementara itu, Dr. Ahed Abu Alatta menekankan pentingnya perkaderan yang berkelanjutan. 

“banyak tokoh besar lahir dari proses perkaderan yang terstruktur,” ungkap Ahed Abu Alatta.

Lebih Ianjut, Dr. Ahed Abu Alatta, juga mendorong agar isu Palestina diangkat dalam proses perkaderan melalui jargon, diskusi tematik, lomba edukatif, serta pelatihan berjenjang.

Dari perspektif lembaga negara, Yulisa Maharani dari LPSK menyampaikan bahwa problematika pelajar perlu direspons dengan pendekatan edukatif yang menyeluruh. 

“Upaya pencegahan terhadap perundungan, kekerasan seksual, dan kenakalan remaja harus dilakukan melalui pemberian pemahaman yang utuh dan berkelanjutan,” tutur Yulisa Maharani.

Melalui kegiatan LAT–PID 2026, PW PII Jakarta menargetkan lahirnya instruktur-instruktur muda yang tidak hanya unggul dalam kepemimpinan dan metodologi pelatihan, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta komitmen kemanusiaan sebagai penggerak peradaban.