HARIAN NEGERI - Jakarta, Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Jakarta Raya sukses menyelenggarakan kegiatan Konsolidasi dan Dialog Pergerakan pada Kamis, (16/7) bertempat di Warkop ABAS, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dialog ini mengusung tema besar “Refleksi Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto: Menakar Relevansi Konsep Islam, Sosialisme, dan Sosial-Demokrasi bagi Gerakan Mahasiswa Hari Ini.”

Kegiatan strategis ini dihadiri oleh perwakilan pengurus SEMMI Cabang dari seluruh wilayah Jakarta Raya. Momentum ini dimanfaatkan secara optimal sebagai ajang konsolidasi organisasi sekaligus wadah untuk memperkuat kembali basis intelektual kader-kader SEMMI di tingkat akar rumput.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Daud Souwakil, dalam laporannya menyampaikan bahwa dialog ini sengaja dirancang bukan sekadar sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai pemantik kesadaran ideologis kader.

“Konsep Islam, Sosialisme, dan Sosial-Demokrasi yang diwariskan oleh H.O.S. Tjokroaminoto adalah kompas pergerakan. Di tengah arus modernisasi dan pragmatisme hari ini, gerakan mahasiswa butuh fondasi berpikir yang kokoh. Lewat momentum konsolidasi se-Jakarta Raya ini, kami ingin memastikan bahwa kader SEMMI tidak hanya aktif di jalanan, tapi juga matang secara intelektual di ruang-ruang diskusi,” ujar Daud.

Dua narasumber kompeten hadir membedah pemikiran Sang Guru Bangsa. Pembicara pertama, Aulia Tahkim Tjokroaminoto selaku perwakilan dari Laznah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI), mengupas tuntas akar historis dan falsafah perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto.

Ia menekankan bagaimana konsep Islam dan ideologi sosial yang digagas Tjokroaminoto bukan sekadar teks sejarah, melainkan instrumen hidup yang harus terus diaktualisasikan oleh generasi muda dalam menjawab tantangan zaman.

WA_1784276958654

Sementara itu, narasumber kedua, Muhammad Senanatha yang menjabat sebagai Kepala Bidang Kemahasiswaan dan Kepemudaan Pengurus Besar (PB) SEMMI, menyoroti kontekstualisasi gerakan. Dalam pemaparannya, ia mengajak mahasiswa untuk menakar kembali relevansi gagasan Islam dan Sosialisme serta Sosial-Demokrasi dalam merespons isu-isu sosial-ekonomi kontemporer. 

“Gerakan mahasiswa hari ini, wajib memiliki landasan ideologis yang kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh pragmatisme politik,” tegas Senanatha. 

Jalannya dialog berlangsung interaktif dan dinamis. Kehadiran kader SEMMI se-Jakarta Raya dalam forum ini menegaskan komitmen bersama untuk menghidupkan kembali tradisi literasi, diskusi, dan dialektika pemikiran di tubuh organisasi.

Melalui konsolidasi ini, PW SEMMI Jakarta Raya berharap kader-kader mahasiswa tidak hanya cakap dalam melakukan aksi pengawalan kebijakan publik, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir ilmiah yang bersumber pada nilai-nilai luhur perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto.