HARIAN NEGERI, Jakarta - Isu pelestarian nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal kembali mengemuka di kalangan generasi muda Aceh di perantauan. Alam Peudeung sebagai bagian dari identitas sosial-budaya masyarakat Aceh, serta warisan Kesultanan yang sarat nilai kepemimpinan dan peradaban, dinilai memiliki relevansi kuat dalam menjawab tantangan zaman.

Ketua Umum Milenial Indonesia Aceh Jakarta, Fariski Adwari, dalam keterangannya, Jum'at (17/4/2026) menyampaikan bahwa generasi muda perlu memahami dan mengaktualisasikan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Alam Peudeung dan sistem Kesultanan.

“Alam Peudeung bukan sekadar simbol, tetapi representasi dari tatanan sosial, etika, dan nilai kebersamaan masyarakat Aceh. Begitu juga dengan Kesultanan yang mewariskan prinsip kepemimpinan yang adil, berdaulat, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” ujar Fariski.

Ia menegaskan bahwa di tengah arus globalisasi dan modernisasi, generasi muda Aceh tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya. Justru, nilai-nilai tersebut harus menjadi fondasi dalam membangun karakter kepemimpinan yang kuat dan berintegritas.

Lebih lanjut, Fariski juga mendorong adanya ruang-ruang diskusi dan kajian yang lebih intens di kalangan pemuda, baik di Aceh maupun di luar daerah, guna mengkaji kembali relevansi sistem Kesultanan dan nilai-nilai Alam Peudeung dalam konteks kekinian.

“Kami berharap generasi muda tidak hanya mengenal sejarah secara normatif, tetapi mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, hingga dalam kontribusi nyata bagi bangsa,” tambahnya.

Milenial Indonesia Aceh Jakarta berkomitmen untuk terus menghadirkan forum-forum intelektual dan kultural sebagai upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur Aceh di tengah dinamika zaman.