Oleh: Ilham Rizafi [Sekretaris Bidang Kaderisasi PC PMII Kota Tangerang Periode 2025 - 2026]

Peringatan hari lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-66 seharusnya tidak sekadar menjadi agenda seremonial yang dipenuhi euforia dan romantisme masa lalu. Momentum ini semestinya dimaknai sebagai ruang kontemplasi yang jujur bahkan berani untuk menelaah kondisi internal organisasi hari ini, terutama dalam hal arah kepemimpinan serta kultur senioritas yang kian memunculkan persoalan.

Selama lebih dari enam dekade, PMII dikenal sebagai ruang kaderisasi yang menempa, wadah dialektika yang hidup, sekaligus laboratorium gerakan mahasiswa Islam yang progresif. Namun dalam realitas kekinian, dinamika internal justru menunjukkan adanya pergeseran. Arena perjuangan yang mestinya terbuka dan membebaskan, perlahan bergeser menjadi ruang kendali yang didominasi oleh kekuatan senioritas.

Gambaran ini bukan sekadar dugaan. Ia merupakan refleksi dari hasil diskusi mendalam bersama kawan-kawan PMII di berbagai daerah. Dari percakapan tersebut, terpotret kondisi objektif dan pengalaman empiris yang menunjukkan kecenderungan serupa: Kuatnya intervensi senior, menyempitnya ruang dialog, serta melemahnya daya kritis dalam forum organisasi.

Dalam berbagai momentum, forum yang seharusnya menjadi arena adu gagasan justru tereduksi menjadi sekadar formalitas administratif. Keputusan tidak lagi lahir dari proses dialektika yang sehat, melainkan telah “dirancang” di luar forum. Akibatnya, musyawarah kehilangan substansinya, dan kader hanya berperan sebagai legitimasi atas keputusan yang telah ditentukan sebelumnya.

Pada titik ini, PMII tengah menghadapi paradoks yang serius. Di satu sisi, kader didorong untuk menjadi kritis, progresif, dan mandiri. Namun di sisi lain, mereka dibatasi oleh relasi struktural yang tidak memberikan ruang kebebasan. Banyak kader muda akhirnya berada dalam dilema: mengikuti arus kendali senior atau mempertahankan idealisme dengan risiko terpinggirkan dari ruang-ruang strategis.

Kultur senioritas yang tidak sehat turut melahirkan krisis kepemimpinan. Proses kaderisasi yang seharusnya menghasilkan pemimpin berintegritas justru terdistorsi oleh praktik patronase. Kepemimpinan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kapasitas dan gagasan, melainkan oleh kedekatan dengan lingkar kekuasaan senior. Dampaknya, independensi organisasi perlahan tergerus, dan keberanian dalam bersikap semakin melemah.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, PMII berpotensi kehilangan ruh perjuangannya. Organisasi yang lahir sebagai ruang pembebasan bisa bertransformasi menjadi alat reproduksi kekuasaan yang elitis. Senioritas yang seharusnya menjadi sumber nilai dan pengalaman justru berubah menjadi instrumen kontrol yang membatasi daya kritis kader.

Momentum Harlah ke-66 ini seharusnya menjadi titik balik. PMII tidak boleh lagi menutup mata terhadap problem internal yang ada. Relasi antara senior dan kader aktif perlu ditata ulang secara sehat dan proporsional. Senior semestinya kembali pada peran sebagai pembimbing dan penuntun, bukan sebagai pengendali. Sementara itu, kader harus diberikan ruang yang luas untuk berkembang, berdialektika, dan mengambil peran secara mandiri.

Kepemimpinan ke depan harus dibangun di atas prinsip meritokrasi, bukan patronase. Forum organisasi perlu dikembalikan pada fungsinya sebagai ruang dialektika yang hidup, bukan sekadar panggung formalitas. Yang tak kalah penting, independensi PMII harus dijaga sebagai prinsip yang tidak bisa ditawar agar tetap relevan sebagai gerakan mahasiswa yang kritis dan progresif.

Enam puluh enam tahun adalah usia yang matang. Namun kematangan itu hanya bermakna jika disertai keberanian untuk melakukan refleksi dan pembenahan. Tanpa itu, PMII hanya akan tampak besar dalam catatan sejarah, tetapi rapuh dalam kenyataan.

Selamat Hari Lahir ke-66 PMII - Semoga tetap teguh pada nilai, berani melawan stagnasi, dan konsisten menjaga marwah perjuangan.