Oleh: Sunano

Anak MIN kelas 1 usianya 9 tahun. Sudah tua sekali. Tahun 90an, anak MIN 7 tahun saja sudah merasa paling tua.

Seminggu ini, banyak orang tua pada heboh. Ada yang gembira, sedih sampai nangis-nangis. Pasalnya, dimulainya seleksi penerimaan siswa baru tingkat MIN Jakarta. Saya pun ikut heboh, anak pertama baru mau masuk MIN. jalur domisili kelewat, akhirnya mencoba jalur reguler. Karena usia baru 7 tahun lebih beberapa hari, dinyatakan tidak diterima. Temen sekelas di TK anakku juga dinyatakan tidak lolos. Padahal usianya 7 tahun 4 bulan.

Seleksi penerimaan siswa baru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Jakarta tahun 2026 melalui 5 jalur: domisili, reguler, jalur Raudhatul Athfal, mutasi, dan jalur tahap akhir. Seleksi jalur ini adalah jalur gratis. Artinya tidak ada uang gedung masuk madrasah negeri.

Ribuan calon siswa MIN mendaftar. Sayangnya kuota sangat terbatas. Semua jalur diutamakan yang usianya paling tua. Akhirnya ada anak usia 9 tahun lewat baru masuk MIN di DKI Jakarta. Apa mereka selama ini tidak tersentuh informasi pendidikan? Atau orang tua terpaksa menunda sekolah? Atau sistem SPMB perlu disempurnakan lagi?

Namun satu hal yang menarik, karena banyak orang tua yang tetap ingin anaknya masuk MIN, akhirnya memilih menunda tahun depan.

Model seleksi lain yang tidak masuk SPMB adalah Jalur Cambridge. Jalur SPMB adalah jalur masuk tanpa tes akademik anak dan gratis. Sedangkan jalur Cambridge adalah jalur unggulan dengan test akademik dan ada biaya masuk. Pada tahun tahun sebelumnya, jalur SPMB berbayar masih ada, saat ini tahun 2026 dihapus dan digantikan jalur Cambridge.

Jalur Cambridge di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) adalah program unggulan yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum standar internasional Cambridge. Saat ini hampir di semua MIN di DKI Jakarta memiliki program Cambridge.

Anak-anak yang masuk jalur Cambridge ini lebih selektif. Seleksi masuk jalur Cambridge mencakup Tes Potensi Akademik (TPA), wawancara bahasa Inggris, dan tes amaliyah ibadah. Biasanya orang tua mempersiapkan sejak dini. Anak-anak mereka ikut les calistung, bahasa inggris, mengaji, dan lain sebagainya sepulang sekolah.

Bagi yang sudah lolos, ada biaya uang masuk yang mencapai lebih dari 7 juta rupiah. Banyak orang tua menyiapkan anaknya agar dapat masuk program Cambridge ini. Program unggulan dan sangat bagus menyiapkan lulusan MIN (lulusan Madrasah) yang mampu bersaing secara global.

Yang jadi masalah adalah, masuknya program Cambridge di MIN ini, mengurangi kelas jalur SPMB. Misalnya di MIN 4 pada tahun 2025 masih membuka 4 kelas jalur SPMB. Karena ada 2 kelas jalur Cambridge 2026, jalur SPMB berkurang menjadi 2 kelas. Padahal jalur SPMB untuk banyak keluarga menengah ke bawah yang tidak mampu menyiapkan anak-anaknya untuk les.

ab3d3b09-7a6a-4141-85ba-78315888a82e.webp

Menjadi siswa MIN bagi orang tua yang berpenghasilan kecil adalah investasi pendidikan yang murah. Bagi anak-anak yang tidak lolos MIN, pilihannya sekolah swasta, atau menunda sekolah.

Pilihan sekolah swasta jelas membuat kantong menjerit. Untuk sekolah berkualitas seperti MIN, uang masuk di atas 10 juta rupiah. Bukan uang sedikit bagi keluarga menengah ke bawah. Belum lagi biaya SPP bulanan.

Bagi anakku dan temen TK yang belum dapat masuk MIN, menunda 1 tahun, bisa jadi masuk MIN usia 8 tahun 4 bulan. Anakku usianya 8 tahun. Seandainya dipaksakan tahun 2027 daftar lagi ke MIN, peluang diterima sangat besar.

f232386d-84a8-4e4b-88b7-57657e807709.webp

Usia Siswa Baru Semakin Tua
Saya coba mengecek hasil seleksi jalur reguler penerimaan di 22 MIN di DKI Jakarta, rata-rata siswa yang diterima usia 8 tahun ke atas. Bahkan ada yang usia 9 tahun lebih. Usia paling muda SPMB MIN jalur reguler usianya 7 tahun 6 bulan. Karena kebijakan zonasi, banyak anak-anak yang usia 7 tahun lebih sedikit, potensial tidak lolos seleksi SPMB. Solusinya, banyak orang tua menunda anak mereka masuk sekolah dan tetap memilih MIN.

Kebijakan zonasi, memberi kesempatan kepada anak-anak yang berdomisili di sekitar sekolah mendapat pendidikan yang layak. Khususnya di DKI Jakarta, banyak keluarga yang bukan ber KTP DKI, selama ini menikmati pendidikan di DKI. Untuk memberikan rasa keadilan bagi keluarga beralamat di sekitar sekolah, ada kuota khusus bagi mereka untuk dapat sekolah yang baik.

Sistem zonasi terus diperbaiki dengan menggunakan basis KK untuk memberi kesempatan kepada peserta didik baru. Masalah krusial yang sampai sekarang semakin tinggi adalah usia siswa baru yang semakin tua.

Sebelum program zonasi diterapkan, tidak muncul masalah usia. Siswa yang tidak terserap di sekolah terdekat, akan mencari sekolah lain yang potensial dapat menampung mereka. Akhirnya rata-rata siswa masuk MIN, SDN, adalah 7 tahun. Hampir tidak ada anak MIN di Jakarta kelas 1 usianya 8 tahun lebih. Saat ini bahkan ada yang usianya 9 tahun lebih.

Saat ini, sangat sulit usia genap 7 tahun dapat masuk MIN. kemungkinan dapat masuk lewat jalur Cambridge jika anaknya dapat lolos tes seleksi. Jika mereka menunda tahun depan baru masuk MIN, otomatis usia mereka sudah 8 tahun. Sebelum tahun 2015, rata-rata anak MIN masih usianya 7 tahun.

Makanya, siswa MIN Jakarta usianya semakin tua-tua.