HARIAN NEGERI - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan pentingnya kepemimpinan digital berbasis data bagi Polri dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat dinamika global.Hal itu disampaikan Rachmat usai menjadi narasumber dalam Seminar Sekolah Lemdiklat Polri di Lembang, Kabupaten Bandung Barat,.Menurut dia, pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia yang telah mencapai lebih dari 230 juta orang menuntut Polri tidak hanya memahami teknologi digital, tetapi juga kondisi masyarakat secara menyeluruh.“Yang paling dekat dengan masyarakat itu polisi. Polisi bukan hanya memahami internet, tetapi harus lebih memahami kondisi masyarakat kita,” ujar Rachmat.Ia mengapresiasi pandangan salah satu pimpinan Polri yang menekankan pentingnya anggota kepolisian memahami kondisi masyarakat di lingkungan sekitarnya. Menurutnya, pemahaman tersebut akan memperkuat kedekatan Polri dengan masyarakat.“Kalau polisi tahu masyarakat sekitarnya, kondisi masyarakat yang ada di lingkungan terbawah, maka polisi pasti lebih dekat dengan hati masyarakat,” katanya.Rachmat mengatakan, pemanfaatan data menjadi semakin penting karena tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya berada di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital, termasuk media sosial dan berbagai platform virtual lainnya.“Dengan kondisi sekarang tidak hanya masalah kasat mata, tetapi juga yang virtual, digital, media sosial.
Polisi harus memahami kedua hal itu, antara realitas dan yang dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.Terkait perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Rachmat menilai pemahaman terhadap teknologi tersebut harus diawali dengan memahami proses, latar belakang, serta implikasinya.“Yang pertama bukan AI-nya yang diketahui, tetapi apa yang ada di balik AI itu. Polisi harus memahami prosesnya, latar belakangnya, implikasinya, serta untuk apa AI itu dikembangkan,” katanya.Menurut Rachmat, AI memiliki manfaat besar dalam bidang pendidikan, penelitian, hingga pengembangan teknologi. Namun, teknologi tersebut juga berpotensi disalahgunakan jika tidak diawasi secara tepat.“Polisi harus tahu kapan AI digunakan dengan baik dan kapan digunakan untuk kegiatan yang tidak baik.
Karena itu polisi harus menjadi pelopor dan ujung tombak perkembangan AI di Indonesia,” tegasnya.Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan data dan AI dalam mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu mengungkap kasus-kasus lama yang sebelumnya sulit diselesaikan.“Dengan bantuan data, penguatan data, pengumpulan data, dan kecerdasan buatan, kejahatan yang sudah terjadi puluhan tahun lalu pun dapat terungkap dengan baik dan presisi,” ujarnya.Rachmat berharap kepemimpinan digital berbasis data dapat semakin memperkuat kemampuan Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di tengah dinamika global yang terus berkembang.


Komentar