Penulis: Sofia Rosidah Ariani
Generasi Z adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1997–2012. Mereka tumbuh di era internet dan media sosial yang sangat berkembang. Dengan teknologi, mereka bisa berkomunikasi dan mendapatkan informasi dengan cepat. Namun, di balik kemudahan itu, banyak anak muda yang mengalami masalah kesehatan mental seperti stres, cemas, depresi, dan merasa kesepian.
Salah satu penyebabnya adalah cara pandang yang keliru tentang kebahagiaan. Banyak orang menganggap bahwa kebahagiaan berasal dari uang, popularitas, jumlah pengikut di media sosial, atau barang mewah. Padahal, kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari hal-hal tersebut.
Karena itu, penting untuk memahami konsep kebahagiaan menurut filsuf Plato dan konsep qanaah dalam Islam agar Generasi Z tidak mudah terjebak dalam pencarian kebahagiaan yang salah.
Kesalahan Memahami Kebahagiaan
Di zaman sekarang, media sosial sering membuat orang membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita melihat teman yang terlihat sukses, cantik, kaya, atau memiliki banyak pengikut. Akibatnya, muncul rasa iri, minder, dan takut tertinggal atau FOMO ( Fear of Missing Out ).
Banyak anak muda akhirnya merasa hidupnya kurang baik dibandingkan orang lain. Padahal apa yang terlihat di media sosial belum tentu sesuai dengan kenyataan. Akibatnya, mereka merasa tidak puas dengan diri sendiri dan sulit merasakan kebahagiaan.
Kebahagiaan Menurut Plato
Plato adalah seorang filsuf Yunani yang berpendapat bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari kesenangan sementara, harta, atau pujian orang lain.
Menurut Plato, seseorang akan bahagia jika memiliki jiwa yang baik, bijaksana, adil, dan mampu mengendalikan dirinya. Kebahagiaan berasal dari dalam diri, bukan dari hal-hal yang bersifat sementara.
Jika dikaitkan dengan Generasi Z, Plato mengajarkan bahwa jumlah like, followers, atau komentar positif di media sosial bukanlah ukuran kebahagiaan yang sebenarnya. Semua itu hanya kesenangan sesaat yang bisa hilang kapan saja.
Konsep Qanaah dalam Islam
Dalam Islam, terdapat konsep qanaah, yaitu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah SWT.
Qanaah bukan berarti malas atau tidak mau berusaha. Justru seseorang tetap harus bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin. Namun setelah berusaha, ia menerima hasilnya dengan ikhlas dan tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Orang yang memiliki sifat qanaah akan lebih tenang karena tidak selalu mengejar hal-hal duniawi. Ia tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain dan lebih fokus mensyukuri apa yang dimilikinya.
Hubungan Plato dan Qanaah
Pemikiran Plato dan konsep qanaah memiliki kesamaan, yaitu sama-sama mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada harta, popularitas, atau kesenangan sementara.
Plato menekankan pentingnya mengenal kebaikan dan membentuk jiwa yang baik. Sementara itu, qanaah mengajarkan rasa syukur dan merasa cukup terhadap nikmat yang diberikan Allah.
Jika kedua konsep ini dipahami oleh Generasi Z, mereka akan lebih kuat menghadapi tekanan sosial dan tidak mudah terpengaruh oleh standar kehidupan yang ditampilkan di media sosial.
Permasalahan Pendidikan Saat Ini
Saat ini sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan akademik dan keterampilan teknis. Namun, pembelajaran tentang makna hidup, kebahagiaan, dan kesehatan mental masih kurang diperhatikan.
Akibatnya, banyak pelajar yang pintar secara akademik tetapi mudah merasa cemas, takut gagal, dan kehilangan arah ketika menghadapi masalah hidup.
Selain itu, konsep qanaah dalam pelajaran agama terkadang hanya dipahami sebagai sikap pasrah. Padahal qanaah sebenarnya adalah sikap bersyukur setelah melakukan usaha yang maksimal.
Pentingnya Mengajarkan Plato dan Qanaah
Guru dan orang tua perlu membantu Generasi Z memahami bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah pengikut, like, atau popularitas di media sosial.
Melalui pemikiran Plato dan konsep qanaah, anak muda dapat belajar bahwa kebahagiaan sejati berasal dari hati yang tenang, pikiran yang bijaksana, serta rasa syukur terhadap apa yang dimiliki.
Dengan pemahaman tersebut, mereka akan lebih percaya diri, tidak mudah iri, dan mampu menjaga kesehatan mentalnya.


Komentar