Penulis : Rahma Maulida
Organisasi merupakan sebuah tempat atau wadah bagi seseorang untuk berkembang didalamnya. Baik berkembang secara intelektual maupun secara moral. Namun, perkembangan teknologi saat ini sering menjadikan organisasi sebagai ruang formalitas saja.
Salah satu organisasi ortom dalam Muhammadiyah adalah IPM. Ikatan Pelajar Muhammadiyah merupakan organisasi yang menampung para pelajar untuk mengembangkan potensi diri sebagai bentuk dakwah amar makruf nahi munkar.
IPM didirikan tanggal 18 Juli 1961M/ 5 Shafar 1381H di Surakarta. IPM bertujuan untuk membentuk pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran islam sehingga terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya.
Dalam menjaga keberlangsungan organisasi IPM memiliki sistem organisasi yang sistematis, dimana IPM memiliki buku pedoman berupa Sistem Pengkaderan IPM (SPI). Setiap tingkat dimulai dari tingkat ranting hingga cabang memiliki proses Taruna Melati yang terjadi secara sekuel dalam setiap tingkatannya, sehingga IPM dapat dijadikan sebagai gerbong awal dalam kaderisasi Muhammadiyah.
Kajian Ontologi: Hakikat Ilmu dan Kader IPM
Dalam kajian ontologi, pertanyaan utamanya mengenai ilmu, kader dan keterkaitan kader dengan ilmu itu sendiri. IPM tidak hanya memandang ilmu sebagai ruang lingkup akademik saja, melainkan sebagai modal dalam membangun kebermanfaatan sosial dan peradaban manusia yang lebih baik. Kader tidak dipandang sebagai anggota organisasi saja, melainkan juga pelajar yang akan dibentuk kesadaran intelektualnya.
Hal ini sesuai dengan semboyan resmi dari IPM yakni “Nuuun, wal qolami wa maa yasthuruun”. Semboyan tersebut menunjukkan pentingnya tradisi membaca, menulis serta menuntut ilmu. Menurut Haedar Natsir, semboyan ini saja sudah cukup untuk menghidupkan Muhammadiyah di masa depan jika dipahami dengan benar.
Kajian Epistemologi: Bagaimana Ilmu Dibentuk Dalam Diri Kader IPM?
Dalam kajian epistemologi membahas bagaimana ilmu diperoleh dan membentuk kepribadian baik kader IPM. Sebagai wadah perkembangan kader, IPM hadir untuk memberikan kegiatan-kegiatan seperti diskusi, musyawarah, bedah buku, pelatihan pengkaderan yang membentuk pengetahuan sosial maupun intelektualitas kader secara tidak langsung.
Sehingga IPM menjadi ruang belajar alternatif untuk belajar soft skill seperti komunikasi yang baik, kepemimpinana, kerjasama, tanggung jawab dan lain sebagainya. IPM melatih rasionalitas berpikir. Jika terdapar permasalahan dalam organisasi, seorang kader akan terlatih pemikirannya untuk dapat keluar dari masalah tersebut, kemampuan problem solving tersebut mendorong pikiran untuk melihat suatu masalah dari berbagai sisi dan resiko.
Dalam perspektif pendidikan modern, proses belajar seperti ini dikenal sebagai konstruksi pengetahuan sosisal, yaitu ilmu dibentuk melalui interaksi pengalaman bersama. Ilmu tersebut seyogyanya harus didapatkan oleh semua kader, namun ilmu tersebut tentunya membutuhkan usaha bagi kader untuk memperolehnya.
Kajian Aksiologi: Untuk Apa Ilmu Digunakan?
Kajian aksiologi adalah untuk mengetahui dampak atau tujuan ilmu. IPM merupakan sebuah organisasi pengabdian, sehingga diharapkan ilmu yang didapatkan tidak berhenti dalam aspek akademik semata. Namun, diarahkan dalam pembentukan moral kepribadian dan kebermanfaatan sosial.
Kader hendaklah memanfaatkan ilmu dengan menjadi pelajar berkemajuan, memiliki kepedulian sosial, serta mampu berdakwah dengan bijak di tengah-tengah keberagaman masyarakat. Dengan demikian, ilmu tersebut tidak hanya menjadi alat kecerdasan akademik, tetapi menjadi modal dasar mengabdi kepada masyarakat.
Meskipun demikian, ditengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, budaya instan dan dominasi media sosial menjadi suatu tantangan tersendiri bagi IPM untuk mempertahankan budaya literasi, diskusi dan pemecahan masalah secara mendalam. Maka, dalam perkembangannya, IPM hendaklah mampu untuk memanfaatkan teknologi yang dengan sebaik-baiknya guna kepentingan organisasi.
Sehingga melalui kajian filsafat ilmu, IPM dapat dipahami tidak hanya organisasi pelajar, tetapi organisasi yang mampu untuk membentuk kesadaran intelektual dan moral kader. Keragka berpikir ontologi, epistemologi dan aksiologi menumbuhkan kesadaran adanya keterkaitan anatara cara berpikir sehingga menghasilkan ilmu dengan cara pemanfaatan ilmu agar tidak hanya sebatas pengetahuan saja, tetapi memiliki dampak bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, budaya literasi dan ilmu dalam kaderisasi IPM mampu melahirkan pelajar-pelajar yang berpikir kritis, bertanggung jawab, beraklak dan berkemajuan.


Komentar