HARIAN NEGERI - Dua tahun tanpa pasokan air PDAM yang normal, warga Kelurahan Husein Sastranegara bertahan dengan sumur bersama, membeli air jeriken, hingga berburu sumber air saat kemarau. Bantuan air bersih yang datang menjadi penolong sementara di tengah harapan yang belum terjawab.RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Mesin sepeda motor matik berwarna hitam itu baru saja dimatikan ketika Iim tiba di depan rumahnya di Gang Karya, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kamis, 25 Juni 2026.Di kedua sisi pijakan kaki motornya tergantung dua jeriken besar berisi air.

Ia menurunkannya perlahan sebelum membawanya masuk ke rumah.

Aktivitas itu bukan pekerjaan sekali waktu.

Bagi Iim, membawa pulang air sudah menjadi bagian dari rutinitas yang berulang setiap musim kemarau.Raut lelah terlihat di wajah perempuan yang kini memasuki usia kepala tiga itu. Namun ia tak banyak mengeluh.

Selama dua tahun terakhir, sulitnya memperoleh air bersih perlahan menjadi kenyataan yang harus diterima warga di lingkungannya.“Ini saya beli air di tempat lain,” katanya singkat.Bagi sebagian orang, membuka keran dan mendapatkan air bersih mungkin merupakan hal biasa.

Namun bagi warga Gang Karya, air telah berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.Pasokan PDAM yang sebelumnya menjadi andalan disebut warga sudah lama tidak mengalir secara normal. Ketika kemarau datang, persoalan itu semakin terasa karena sumber air alternatif ikut menyusut.Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, Iim harus berulang kali mencari air.

Dalam sehari, ia bisa lima kali bolak-balik membawa pulang air dengan total hingga 10 jeriken. Air itu digunakan untuk memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, mandi, hingga mencuci pakaian.Penggunaan air pun harus dihitung dengan cermat.Sesekali, sebagian pakaian sengaja dibawa ke jasa laundry agar kebutuhan air di rumah dapat ditekan, meski harus mengeluarkan biaya tambahan.Dalam kondisi yang lebih sulit, satu ember air bahkan pernah digunakan bersama oleh lima anggota keluarganya untuk mandi.“Ya mau gimana lagi, kondisinya memang sulit air,” ujarnya.Menurut Iim, persoalan pasokan air mulai dirasakan sejak adanya pekerjaan pemasangan jaringan pipa yang dilakukan pada 2018. Setelah itu, aliran air ke rumahnya disebut semakin kecil hingga akhirnya tidak lagi dirasakan secara normal.Pada awalnya, kata dia, masih ada bantuan air yang dikirim menggunakan truk tangki.

Namun bantuan tersebut tidak berlangsung lama.“Tapi itu cuma setahun kalau tidak salah, ke sininya sudah tidak ada,” tuturnya.Sebelum bergantung pada air yang dibeli, warga sebenarnya memiliki sumur sebagai sumber pasokan alternatif.

Namun ketika kemarau berlangsung selama satu hingga dua bulan, debit air sumur terus menurun bahkan mengering.“Awalnya kebanyakan pakai sumur. Tapi kalau kemarau sudah satu atau dua bulan, sumur sudah tidak ada airnya.

Jadi setiap rumah mengandalkan PDAM.

Nah sekarang PDAM juga sudah tidak mengalir sekitar dua tahun,” katanya.Di lingkungan tersebut, warga kini mengandalkan sumur artesis yang jumlahnya terbatas. Dalam satu RT hanya tersedia satu sumur yang digunakan bersama-sama.