HARIAN NEGERI, Jakarta — Bagaimana sebuah bentuk menjauh dari realitas lalu menemukan maknanya sendiri? Pertanyaan itu menjadi benang merah pameran Imba: Dari Abstraksi ke Abstrakisme, hasil kolaborasi Salihara dan Artsociates yang digelar di Galeri Salihara.

Lebih dari 80 karya lukis dan patung dari periode 1950-an hingga 2025 ditampilkan dalam pameran ini. Sorotan utamanya adalah perkembangan formalisme dan abstraksi dalam seni rupa Indonesia, yang dibaca melalui lintas generasi perupa.

Sejumlah nama penting hadir dalam dialog visual tersebut, di antaranya A.D. Pirous, G. Sidharta, Umi Dachlan, Fadjar Sidik, serta generasi lebih muda seperti Amrizal Salayan, Galih Adika Paripurna, dan Mujahidin Nurrachman. Pameran ini dikurasi oleh Asikin Hasan dari koleksi Artsociates.

Melalui ragam medium dan pendekatan visual, pengunjung diajak menelusuri bagaimana bentuk, imaji, serta pengalaman personal seniman berkembang menjadi bahasa yang otonom. Abstraksi dihadirkan bukan sekadar gaya, melainkan sebagai cara berpikir yang terus cair dan melampaui batas representasi.

Pameran dibuka pada Jumat, 16 Januari 2026 pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga 22 Februari 2026. Galeri beroperasi setiap Selasa hingga Minggu pukul 11.00–19.00 WIB, dengan kunjungan terakhir pada 18.30 WIB. Senin dan hari libur nasional tutup.

Harga tiket masuk Rp25.000 untuk Selasa–Jumat dan Rp35.000 untuk Sabtu–Minggu. Anak-anak dan pelajar hingga jenjang S1 dapat masuk secara gratis. Informasi lebih lanjut dan pembelian tiket tersedia melalui laman resmi Salihara.

Pameran ini diharapkan menjadi ruang refleksi atas perjalanan abstraksi di Indonesia sekaligus membuka percakapan baru tentang masa depan seni rupa non-representasional di Tanah Air.