Penulis: Syamil Iklil dan Arini Astari (Tim Penyusun Pusat Riset Big Data Continuum - INDEF)

Banjir dan longsor yang terjadi pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 kembali menimbulkan dampak besar di Pulau Sumatera. Sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terdampak banjir bandang dan longsor hampir bersamaan akibat curah hujan ekstrem. Hingga 4 Januari 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.117 korban meninggal dunia, 148 orang masih hilang, sekitar 242 ribu penduduk mengungsi, serta 178.479 rumah mengalami kerusakan dari ringan hingga berat.​

Besarnya angka korban dan kerusakan ini memicu perhatian publik terhadap akar persoalan bencana. Di luar faktor cuaca, perdebatan menguat: sejauh mana kerusakan lingkungan dan pola pemanfaatan ruang berperan dalam memperburuk dampak banjir di Sumatera.

 

Metodologi

4a32c9d5-f235-4817-a9b3-ca14182c68cf.webp

Metode pengambilan data menggunakan teknik scraping dengan berdasarkan keyword yang sudah ditentukan. Data yang terkumpul akan di filter dari media dan bot dengan pendekatan machine learning untuk memastikan data yang dianalisis terhindar dari bias. Data yang sudah terfilter akan menjadi input untuk analisis dengan pendekatan machine learning seperti sentimen analisis, topik analisis hingga analisis user.

 

Sebaran Wilayah Terdampak

  Provinsi  

Kota/Kabupaten  

Tanggal Kejadian  

Aceh  

Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Bireuen  

24 Desember  

Sumatera Utara  

Padang  

30 Desember  

Sumatera Barat  

Kabupaten Solok, Kabupaten Agam,  

30 Desember  

Kalimantan Selatan  

Tabalong, Balangan, HSS, HST, HSU, Tanah laut, Banjarbaru  

27 Desember  

Jawa Tengah  

Tegal (Guci), Purworejo, Pemalang, Magelang  

20 Desember  

Sumber: Pemberitaan, Diolah Penulis (2025)

 

Persepsi Publik: Deforestasi di Pusat Narasi

0c7799ba-6687-46d4-a1af-f0500fe4ea88.webp

Sumber: Twitter/X dan Youtube, Diolah Penulis (2025)

Analisis 576.176 perbincangan di Twitter/X dan YouTube pada 23–30 November 2025 menunjukkan pola narasi yang relatif konsisten dalam memaknai banjir di Sumatera. Tingginya sentimen negatif didominasi oleh narasi “hukuman alam atas keserakahan manusia”. Hal ini merujuk pada maraknya deforestasi yang terjadi pada hutan di Pulau Andalas. Hal tersebut kemudian diikuti oleh rasa marah karena masyarakat lah yang menjadi korban, hal ini dinilai tidak adil.

90b16ce0-1ed7-4d71-aca3-28043bcca1fb.webp

Sumber: Twitter/X dan Youtube, Diolah Penulis (2025)

Selain itu, Kerusakan lingkungan, khususnya deforestasi, dipandang netizen sebagai faktor utama yang melemahkan daya dukung alam, sehingga wilayah menjadi lebih rentan terhadap banjir dan longsor.​Faktor alam seperti curah hujan ekstrem dan siklon tropis tetap muncul sebagai pemicu, tetapi tidak diposisikan sebagai penyebab tunggal. Percakapan publik juga mengaitkan bencana dengan tata kelola sumber daya alam dan aktivitas ekonomi di kawasan hulu, meskipun intensitasnya lebih rendah dibanding isu deforestasi. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa mitigasi bencana memerlukan perbaikan pengelolaan lingkungan, bukan hanya respons darurat.

 

Faktor Iklim: Curah Hujan dan Peran Siklon Tropis

 

Lokasi  

Rata-rata  

Curah Hujan di 2023  

(mm/bulan)  

Curah Hujan Saat Bencana  

(mm/hari)  

Persentase  

Aceh Utara  

172.5  

310.8  

180%  

Medan  

285.1  

262.2  

92%  

Padang Pariaman  

459.1  

154.0  

34%  

Sumber: BMKG dan BPS, Diolah Penulis (2025) 

 

Lonjakan hujan dalam waktu singkat ini berpotensi besar memicu limpasan permukaan, banjir bandang, dan longsor, terutama di wilayah dengan daya serap tanah yang telah menurun akibat degradasi lingkungan.​

Salah satu faktor pemicu utama peningkatan curah hujan tersebut adalah kemunculan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025. Sistem cuaca ini memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan suplai uap air ke wilayah daratan Sumatera, khususnya Aceh. Dampaknya tidak hanya berupa hujan sangat lebat, tetapi juga angin kencang dan cuaca ekstrem lain yang memperbesar risiko gangguan lingkungan dan infrastruktur di wilayah terdampak.Data hutan

Deforestasi: Tekanan Jangka Panjang di Hulu

35afd8d1-efc6-4443-96f5-24429ba0b7f0.webp

Sumber: BPS, Diolah Penulis (2025)

Penurunan tutupan hutan berarti melemahnya daya serap air, stabilitas tanah, dan kapasitas penahan limpasan hujan di wilayah hulu. Dalam situasi curah hujan ekstrem, kombinasi ini menjadikan banjir dan longsor jauh lebih destruktif dibanding kondisi ketika fungsi ekologis hutan masih terjaga.​

Dari Data ke Agenda Kebijakan

Jika dirangkai, data korban, curah hujan, dan deforestasi memberikan gambaran yang konsisten: banjir dan longsor di Sumatera merupakan hasil akumulasi tekanan lingkungan jangka panjang yang kemudian dipicu oleh anomali cuaca. Bencana ini bukan hanya persoalan intensitas hujan, tetapi konsekuensi dari berkurangnya kapasitas ekologis Sumatera sebagai benteng alami terhadap risiko iklim ekstrem.​

Bagi pemerintah dan BUMN, beberapa implikasi kebijakan yang dapat ditarik antara lain:​

  • Mengintegrasikan indikator risiko hidrometeorologis dan data tutupan hutan dalam perencanaan ruang, infrastruktur, dan investasi strategis.

  • Memperkuat program rehabilitasi DAS dan reforestasi di provinsi dengan tren deforestasi tinggi.

  • Menata ulang tata kelola izin pemanfaatan lahan di kawasan hulu yang berkontribusi pada peningkatan risiko banjir dan longsor.

Dengan pendekatan berbasis data seperti ini, kebijakan dan investasi pasca bencana dapat diarahkan tidak hanya untuk pemulihan jangka pendek, tetapi juga pengurangan risiko sistemik di masa depan.

Tim Penyusun Pusat Riset Big Data Continuum - INDEF:

Syamil Iklil – Economist (088219742875)
Arini Astari (Data Scientist) (0812-1988-5575)