HARIAN NEGERI - Dampelas, Rabu (29/4/2026), Menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional, semangat menghidupkan kembali budaya membaca di lingkungan sekolah semakin terasa di Kecamatan Dampelas. Melalui pengadaan buku oleh sekolah, puluhan Kamus Bergambar Bahasa Dampelas resmi menambah koleksi literasi perpustakaan SMAN 1 Dampelas dan SMAN 2 Dampelas pada 29–30 April 2026.
Distribusi buku dilakukan langsung oleh penulisnya, Opick Delian Alindra, S.H., CPS, putra asli Dampelas yang dikenal sebagai Pemuda Pelopor Desa Tahun 2025 sekaligus pemerhati bahasa daerah. Kehadiran Opick menjadi simbol nyata kontribusi generasi muda dalam menguatkan ekosistem pendidikan berbasis literasi dan kebudayaan lokal.
Kegiatan ini tidak sekadar penambahan koleksi buku, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan menghidupkan perpustakaan sekolah sebagai pusat literasi dan ruang tumbuhnya budaya membaca di kalangan pelajar.
Menurut Opick, perpustakaan sekolah merupakan ruang strategis dalam menjaga identitas kedaerahan di tengah arus globalisasi.
“Budaya membaca harus kembali menjadi tradisi. Dari perpustakaan, generasi muda mengenal sejarahnya, bahasanya, dan jati dirinya. Identitas daerah tidak boleh hilang hanya karena kita berhenti membaca,” ungkapnya.
Sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII), ia menekankan pentingnya peran anak muda dalam menghadirkan gerakan pendidikan yang konkret melalui karya literasi dan pelestarian budaya lokal.

Apresiasi atas kegiatan ini disampaikan oleh pengelola perpustakaan SMAN 1 Dampelas, Ibu Nana Handayani, S.Pd, yang menilai hadirnya Kamus Bergambar Bahasa Dampelas memberi semangat baru bagi pengembangan literasi sekolah.
“Buku berbasis bahasa daerah sangat membantu meningkatkan minat baca siswa. Perpustakaan menjadi lebih hidup karena siswa merasa dekat dengan bacaan yang berkaitan dengan lingkungan dan budaya mereka sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Dampelas, Bapak Irham, S.Pd, menyampaikan bahwa pengadaan buku tersebut merupakan langkah strategis sekolah dalam memperkuat budaya literasi sekaligus menjaga identitas kedaerahan peserta didik.
“Sekolah memiliki tanggung jawab bukan hanya mencerdaskan siswa secara akademik, tetapi juga menjaga akar budaya mereka. Kehadiran Kamus Bergambar Bahasa Dampelas menjadi bagian penting dalam menghidupkan budaya membaca serta memperkaya koleksi perpustakaan untuk mendukung kualitas pendidikan,”* jelasnya.
Gerakan literasi ini memperlihatkan kolaborasi kuat antara pemuda dan sekolah dalam menjaga bahasa daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Dukungan serius dari pemerintah daerah diharapkan dapat memperluas gerakan literasi berbasis kearifan lokal menjadi program pendidikan yang berkelanjutan.
Menjelang Hari Pendidikan Nasional, langkah yang lahir dari Dampelas menjadi pesan inspiratif bahwa masa depan pendidikan dibangun melalui buku yang dibaca, perpustakaan yang hidup, serta kesadaran kolektif menjaga bahasa dan budaya sebagai warisan peradaban.


Komentar