Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, visi resmi pembangunan Indonesia sering latah membayangkan usia seratus tahun kemerdekaan bangsa sebagai era keemasan dengan hadirnya “generasi emas”. Namun bayangan itu terkesan "halu". Dengan menimbang realitas fundamental, kualitas dan pencapaian saat ini, kita patut bersyukur bila dalam usia satu abad Indonesia masih bertahan utuh.

Di negeri dengan ribuan pulau, ratusan bahasa, keyakinan, dan ingatan sejarah yang retak, keberlangsungan itu sendiri merupakan pencapaian besar. Banyak bangsa runtuh sebelum matang, sedangkan Indonesia dengan segala gaduh dan cacatnya masih berdiri. Itu menunjukkan daya lenting sejarah yang kuat.

Tak ada alasan untuk kecil hati. Amerika Serikat pun tidak menjadi adidaya dalam abad pertamanya. Mereka melewati perang saudara, segregasi, dan konflik politik sebelum akhirnya membangun institusi, menguasai ilmu pengetahuan, dan menjadi negara adidaya pada abad kedua.

Namun sejarah tidak menunggu bangsa yang cepat berpuas diri. China menunjukkan pola baru: melalui disiplin, penguasaan teknologi, dan pemanfaatan globalisasi, kemajuan dapat dipercepat hanya dalam beberapa dekade.

Indonesia hari ini berada di persimpangan bukan bangsa gagal, tetapi juga belum menemukan irama besar untuk melompat lebih tinggi. Kita terlalu sering mabuk slogan dan merayakan mimpi sebelum fondasinya selesai dibangun.

Jalan kemajuan harus dimulai dari pendidikan sebagai fondasi pembentukan manusia unggul, disusul pembenahan tata kelola negara agar lebih bersih dan efektif, serta pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan yang berkemakmuran dan berkeadilan. Sebab masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusia, kekuatan institusi, dan kesejahteraan yang merata.

Mungkin Indonesia belum menjadi negara maju pada usia satu abad. Namun jika abad pertama bangsa ini sanggup sintas lewati berbagai ranjau, itu sudah menjadi modal berharga. Dari fondasi itulah bangsa dapat menapaki abad kedua dengan lebih berilmu dan beradab, tertib hukum dan politik, adil dan makmur, dan lebih percaya diri menatap dunia. Sebab kejayaan sejati bukanlah hasil lompatan sesaat, melainkan buah dari rangkaian panjang kesabaran berjuang.