Oleh: PW PII Jakarta
Ketua Umum PB PII tampaknya memang punya satu keahlian paling konsisten: menghilang tepat saat organisasi paling membutuhkan kepemimpinan. Saat kader gaduh, Muktamar mandek, dan konflik meledak, beliau justru sibuk satu hal mengamankan posisi, bukan menyelamatkan organisasi.
Sikapnya tak ubahnya raja tanpa pasukan: duduk tenang di singgasana, pura-pura sibuk, tapi tak satu pun masalah diselesaikan. Ketika pelajar butuh arah, beliau malah memilih bungkam, berharap semua masalah selesai dengan sendirinya.
Dan di titik inilah Aksi Selamatkan PII lahir. Karena terlalu lama kami yang katanya "adinda tercinta" dibuat merasa asing di rumah sendiri. Aspirasi tak didengar, keresahan tak ditanggapi, dan suara kader hanya dianggap riuh belaka.
Kami bergerak bukan karena ingin menggantikan, tapi karena yang seharusnya memimpin justru menghilang.
Kami turun ke jalan karena organisasi ini sedang kosong di tengah krisis, dan kami menolak untuk membiarkannya runtuh dalam senyap.
Kalau Ketua Umum hanya bisa bertahan lewat diam, maka kami pastikan: diam beliau akan dibalas dengan perlawanan kader.
Karena PII tak akan diselamatkan oleh mereka yang hanya pandai menjaga kursi tapi oleh mereka yang berani turun tangan, saat semua orang memilih lari.

Komentar