HARIAN NEGERI, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar meluncurkan program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai upaya menjawab berbagai tantangan dalam dunia pendidikan, mulai dari kekeringan batin hingga meningkatnya kasus perundungan dan kekerasan.

“Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” ujar Menag saat peluncuran di Jakarta, Rabu.

Melalui Kementerian Agama Republik Indonesia, KBC dihadirkan sebagai paradigma baru pendidikan yang menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Program ini juga mendorong guru, penyuluh, serta ASN Kemenag menjadi agen penyebar nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial.

Menurut Nasaruddin, Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya bertujuan mencetak peserta didik yang produktif, tetapi juga membawa keberkahan. Ia menekankan bahwa produktivitas tanpa nilai tidak akan bermakna, sementara keberkahan tidak mungkin hadir tanpa produktivitas.

Program ini menargetkan terciptanya ekosistem pendidikan dan kehidupan beragama yang harmonis, inklusif, serta berkeadaban. Peserta didik diharapkan tumbuh dengan karakter toleran, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran, pembinaan umat, dan pelayanan publik secara konkret dan berkelanjutan,” kata Menag.

Sementara itu, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Muhammad Ali Ramdhani menyampaikan bahwa program Belajar Mandiri KBC bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan kepribadian guru serta penyuluh.

Ia mengungkapkan, program yang diikuti oleh 305.344 peserta secara daring ini menunjukkan tingginya antusiasme tenaga pendidik dalam meningkatkan kapasitas diri di era digital.

“Tujuan dari pelatihan ini adalah memberikan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk menginternalisasi pemaknaan Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar Ramdhani.