Oleh: Muhiddin Maulud (Kader HMI Cabang Ternate)
Kita hidup di era di mana "diam" menjadi barang mewah. Notifikasi ponsel yang tak henti berkedip, banjir informasi di media sosial, dan tuntutan hidup yang serba cepat menciptakan apa yang disebut sebagai era distraksi (gangguan) massal. Di tengah hiruk-pikuk ini, jiwa manusia modern seringkali terasa kering, lelah, dan kehilangan fokus.
Bagi kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang sehari-harinya bergulat dengan dialektika intelektual, rapat organisasi hingga larut malam, dan aksi sosial-politik, risiko kekeringan spiritual ini justru semakin nyata. Aktivisme yang tanpa jeda bisa menjebak kita pada rutinitas duniawi yang melelahkan, melupakan esensi transendental dari perjuangan itu sendiri.
Di sinilah momentum Nisfu Sya'ban hadir. Seringkali, malam pertengahan bulan Sya'ban ini hanya dianggap sebagai ritual tradisional tahunan. Namun, jika dimaknai lebih dalam, Nisfu Sya'ban adalah sebuah pitstop spiritual yang krusial sebelum memasuki sirkuit besar Ramadan.
Bagi HMI, momen ini menawarkan peluang emas untuk merumuskan kembali gerakan bukan hanya sebagai mesin kaderisasi atau kendaraan politik, melainkan sebagai sebuah “Tarekat Sosial” sebagai jalan spiritual kolektif menuju Tuhan melalui pengabdian kemanusiaan.
Distraksi dan Kehilangan Jalan
Teori gerakan sosial modern sering menyoroti bagaimana aktivisme di era digital menghadapi tantangan fragmentasi perhatian. Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut era ini sebagai "likuid modernitas", di mana segala sesuatu cair, cepat berubah, dan sulit dipegang.
Bagi aktivis Islam, distraksi ini berbahaya. Ia bisa menggeser orientasi gerakan dari Lillahi Ta’ala (karena Allah) menjadi sekadar mengejar eksistensi digital atau kekuasaan pragmatis. Ketika gerakan kehilangan tambatan spiritualnya, ia menjadi bising tanpa makna.
Al-Qur’an telah memberikan peringatan dini tentang pentingnya "jeda" di tengah kesibukan untuk menemukan kembali ketenangan:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Ayat ini adalah antitesis dari era distraksi. Ketenangan (tuma'ninah) tidak ditemukan dalam scrolling layar tanpa henti, melainkan dalam dzikrullah (mengingat Allah).
Nisfu Sya'ban, Sebuah Proposal Muhasabah
Nisfu Sya'ban secara historis dan kultural dipahami sebagai malam di mana catatan amal diangkat dan rahmat Allah turun melimpah. Dalam sebuah hadis yang dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani, Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah menilik kepada semua makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya'ban, maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali musyrik (orang yang menyekutukan Allah) dan musyahn (orang yang bermusuhan)," (HR. Ibnu Majah, dari Mu'adz bin Jabal).
Hadis ini menarik. Pengecualian pengampunan bagi mereka yang "bermusuhan" (musyahn) memberikan dimensi sosial yang kuat pada malam ini. Nisfu Sya'ban bukan hanya soal ritual individu di atas sajadah, tetapi juga soal membereskan hubungan horizontal antarmanusia (hablun minannas).
Bagi HMI, ini adalah momen muhasabah (introspeksi) organisasi. Apakah dinamika komisariat, korkom, hingga pengurus besar masih dalam koridor fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan), atau sudah terjebak dalam musyahn—permusuhan internal, sikut-sikutan politik, dan ego sektoral?
HMI Sebagai Tarekat Sosial
Dalam tradisi tasawuf, tarekat adalah jalan atau metode spesifik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Biasanya, tarekat diasosiasikan dengan zikir-zikir khusus di bawah bimbingan seorang mursyid.
Namun, di era modern, kita perlu memperluas makna ini. Cendekiawan Muslim seperti Nurcholish Madjid (Cak Nur)—yang pemikirannya sangat mewarnai HMI—menekankan Islam yang substansial, yang membumi dalam konteks keindonesiaan dan kemodernan.
HMI dapat dipahami sebagai sebuah "Tarekat Sosial". Artinya, organisasi ini adalah jalan (tarekat) bagi kadernya untuk mencapai keridhaan Allah, bukan melalui isolasi diri di puncak gunung, melainkan melalui keterlibatan aktif menyelesaikan masalah umat dan bangsa.
Setiap diskusi di komisariat adalah bentuk tafakur. Setiap aksi advokasi rakyat adalah bentuk jihad sosial. Setiap proses perkaderan (LK) adalah riyadhah (latihan) menempa jiwa. Dan mungkin sedikit yang menjalaninya.
Teori gerakan Islam kontemporer, seperti yang diulas oleh Asef Bayat tentang "post-Islamisme", menunjukkan pergeseran dari gerakan yang hanya berfokus pada negara/politik formal menuju gerakan yang menekankan kesalehan sosial dan etika publik.
HMI sebagai Tarekat Sosial sejalan dengan ini. Ia menjadikan lima kualitas Insan Cita (Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi, Bernafaskan Islam, dan Bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur) sebagai maqam-maqam (tingkatan) spiritual yang harus dicapai melalui laku sosial. Bukankah begitu?
Di tengah distraksi duniawi, Nisfu Sya'ban hadir sebagai alarm agar kita menepi sejenak dari jalan tol aktivisme yang bising. Ia mengingatkan kader HMI bahwa sehebat apapun strategi taktis dan wacana intelektual, jika hati penuh permusuhan dan lupa pada Sang Tujuan Akhir, maka gerakan itu kosong.
Menjadikan HMI sebagai Tarekat Sosial berarti menyadari bahwa setiap keringat yang menetes dalam perjuangan organisasi haruslah bernilai ibadah. Nisfu Sya'ban adalah momen untuk mengisi ulang energi spiritual itu, memaafkan sesama kader (Suanggi), membersihkan niat, agar di bulan Ramadan nanti, dan dalam perjuangan selanjutnya, kita tidak hanya menjadi aktivis yang sibuk, tetapi juga hamba yang sadar.
Mari gunakan malam Nisfu Sya'ban ini bukan hanya untuk berdoa bagi diri sendiri, tetapi juga untuk mendoakan soliditas himpunan, agar ia tetap menjadi mata air jernih di tengah gersangnya peradaban digital.
Yakin Usaha Sampai

Komentar