Penulis : Fearlyta Melania Sutrisno
NIM: 2506010037
Filsafat merupakan salah satu cabang ilmu yang menekankan ke proses daripada produk, lalu menggali bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh, dipaham, diterapkan dan diterima sebagai pengetahuan yang sah. Melalui filsafat memahami berbagai persoalan tentang pendidikan dan filsafat ini menjadi sumber yang mewarnai segala aktivitas manusia di suatu bangsa. Dalam kehidupan masyarakat filsafat memberikan ruang untuk mengeksplorasi dan menelaah impikasi dan moral dari suatu ilmu pengetahuan bukan hanya sekedar mengembangkan teori-teori ilmiah semata, tetapi juga tentang bagaimana kita berpikir, bagaimana ilmu itu berkembang, dan bagaimana ilmu itu berperan di kehidupan manusia. Filsafat sangat membantu masyarakat untuk menjawab tentang persoalan hidup dan kehidupan yang kesimpulannya bersifat hakiki.
Di Jepara beradalah salah satu tokoh yang terkenal dengan pelopor emansipasi perempuan Indonesia yaitu Raden Ajeng Kartini. Lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879 yang kemudian hari lahirnya dijadikan sebagai hari kartini. Kartini muda memiliki semangat yang tinggi untuk tidak membiarkan dirinya memiliki pikiran terkungkung. Namun pada masa itu, menjadi perempuan merupakan suatu hal yang berat karena mengalami keterbatasan dalam memperoleh pendidikan dan berkembang secara bebas. Melihat hal ini Kartini bergerak melakukan emansipasi yang menyatakan bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki laki terutama untuk berpendidikan dan aspek sosial.
Kartini merasa bahwa pendidikan bukan hanya menjadikan seseorang pintar menulis dan membaca saja tetapi sebuah instrumen untuk mengangkat harkat dan martabat seseorang. Pemikiran kritisnya tertuang dalam surat yang dituliskan untuk sahabatnya Stella Zeehandelaar, yang kelak dibukukan dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam tulisan tulisan tersebut, Kartini menegaskan bahwa perempuan adalah pendidik pertama bagi anak anaknya. Oleh karena itu, membiarkan perempuan tetap bodoh sama saja dengan membiarkan generasi masa depan bangsa ini hancur dan layu sebelum berkembang. Dari titik inilah terwujud aksi menginisiasi sekolah bagi perempuan Pribumi.
Jika dihubungkan dengan filsafat moral, Kartini memandang pendidikan bukan sekedar urutan praktis belaka. Beliau menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan budi pekerti yang luhur dan akhlak mulia. Kecerdasan tanpa akhlak yang baik justru menciptakan masalah di masyarakat. Pemikiran ini membuktikan Kartini tidak hanya sekedar menuntut kesetaraan gender, tetapi juga perduli pada pembentukan karakter dini bangsa.
Akhirnya, perjuangan RA Kartini membuahkan hasil dan memberi kita pelajaran bahwa pemikiran filsafat tidak boleh sekedar teori diatas kertas. Lewat keberaniannya menyuarakan pikirannya dan bertindak ditengah kuatnya arus tradisi feodalisme, Kartini telah meletakkan dasar perubahan sosial di Indonesia. Warisan terbesarnya bukan terletak di status kepahlawanannya, melainkan ajakan bagi generasi muda bangsa untuk berpikir kritis, menentang ketidakadilan, dan terus memperjuangkan kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Komentar