HARIAN NEGERI - Donggala, Di tengah kekhawatiran semakin memudarnya penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, lembaga pendidikan di Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala justru menunjukkan harapan baru. Sekolah mulai mengambil peran strategis sebagai ruang penyelamatan identitas budaya melalui pembelajaran bahasa daerah. Rabu (15/4/2026).
Kesadaran tersebut tampak dari pemanfaatan “Buku Kamus Bergambar Bahasa Dampelas” yang kini membantu proses belajar mengajar di SDN 16 Dampelas. Kehadiran buku tersebut menjadi angin segar bagi guru dalam menyampaikan materi muatan lokal kepada peserta didik.
Guru SDN 16 Dampelas, Aspiana, S.Pd, mengungkapkan bahwa sebelumnya pembelajaran bahasa daerah berlangsung dengan keterbatasan bahan ajar yang terstruktur. Banyak materi hanya bersumber dari ingatan dan tradisi lisan.
“Dengan adanya buku kamus bergambar, menurutnya, peserta didik lebih mudah mengenali kosakata bahasa Dampelas karena dilengkapi ilustrasi visual yang menarik serta penyusunan materi yang lebih sistematis,” ujar Aspiana.
Hal serupa juga disampaikan oleh Elis Sumianti, S.Pd, guru muatan lokal yang aktif mengajarkan bahasa daerah di sekolah. Ia menilai buku tersebut membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup sekaligus menumbuhkan kebanggaan peserta didik terhadap bahasa ibu mereka.
Elis Sumianti diketahui merupakan ibu dari Opick Delian Alindra, pemuda Dampelas yang menulis buku kamus bergambar tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata dalam bidang pendidikan dan pelestarian budaya lokal.
“Di balik inisiatif positif tersebut, masih terdapat tantangan besar dalam aspek kebijakan. Hingga kini belum terdapat petunjuk teknis maupun regulasi resmi berupa Peraturan Bupati yang secara konkret mengatur kurikulum serta standar bahan ajar bahasa daerah di Kabupaten Donggala,” ungkap Elis.
Ketiadaan regulasi ini menjadikan langkah sekolah-sekolah di Dampelas sebagai bentuk kesadaran pendidikan yang lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan semata karena dorongan kebijakan formal.
Menanggapi penggunaan bukunya di sekolah, Opick Delian Alindra mengaku merasa bangga dan terharu dapat ikut berkontribusi bagi daerahnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap karya dan inisiatif generasi muda yang berupaya menjaga warisan budaya melalui dunia pendidikan.
“Saya melihat sekolah di Dampelas memiliki kesadaran besar untuk menjaga bahasa daerah. Ini bukan hanya soal pelajaran, tetapi tentang menjaga identitas masyarakat,” tutur Opik.
Dirinya juga menjelaskan bahwa kesadaran pelestarian bahasa daerah juga mulai tumbuh di tingkat pendidikan menengah. SMAN 1 Dampelas dan SMAN 2 Dampelas diketahui tengah melakukan pengadaan buku tersebut untuk melengkapi koleksi perpustakaan sekolah agar peserta didik tetap memiliki referensi belajar bahasa daerah.
“Distribusi buku ke sekolah-sekolah yang melakukan pengadaan direncanakan berlangsung dalam satu hingga dua minggu ke depan,” jelasnya.
Menurutnya, Di tengah belum hadirnya regulasi yang kuat, langkah sekolah-sekolah di Dampelas menjadi pesan moral bagi dunia pendidikan: bahwa menjaga bahasa ibu tidak selalu harus menunggu kebijakan, tetapi dapat dimulai dari kesadaran lembaga pendidikan itu sendiri.
“Hari ini, dari ruang-ruang kelas sederhana di Dampelas, upaya menjaga bahasa daerah sedang ditanamkan — sebagai warisan, sebagai identitas, dan sebagai masa depan budaya lokal,” tutupnya.


Komentar