Penulis: Narra Yudi Putra

Bertepatan dengan hari libur nasional peringatan Kenaikan Isa Al-Masih, hari yang biasanya diisi dengan istirahat justru kami pilih sebagai hari perayaan. Bukan tanpa alasan. Hari itu Setu Cikaret biasanya lebih ramai dari biasa. Masyarakat berdatangan dan anak-anak SAI Cibinong bersama kami para fasilitator ingin tepat ada di sana, ketika sebanyak mungkin orang bisa melihat dan mendengar pesan mereka.

Perlu saya ceritakan sedikit ke belakang sebelum hari bersejarah itu tiba. Beberapa waktu lalu, saya dan rekan-rekan fasilitator mengajak anak-anak SAI Cibinong melakukan penelusuran alam di area Setu Cikaret, sebuah danau wisata alam yang tepat berada di belakang sekolah. Di sinilah cerita ini bermula.

Saya masih ingat betul ketika salah satu anak bertanya, "Kenapa setunya kotor begini?" Kemudian anak lain menyahut dengan pertanyaan serupa. Hampir semua kelas, dengan usia dan cara berpikir mereka masing-masing, melontarkan pertanyaan yang sama, kenapa setu ini berbau tidak sedap? Kenapa banyak sampah? Kenapa tempat yang indah ini bisa sampai seperti ini?.

IMG-20260521-WA0122
 

Pertanyaan yang datang dari begitu banyak anak bukan sesuatu yang bisa kami abaikan begitu saja. Sebagai fasilitator, saya pun tidak mencoba menjawab sendiri. Kami duduk bersama mereka, mendiskusikan apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan, dan yang paling penting: apa yang bisa mereka lakukan. Itulah roh dari metode Project-based Learning (PjBL) yang selama ini menjadi program unggulan pembelajaran di Sekolah Alam Indonesia Unit Cibinong.

Dari diskusi itu, keputusanpun bulat: Setu Cikaretakan menjadi panggung proyek terakhir mereka, dan aksinya adalah membersihkan serta mengampanyekan kepedulian lingkungan kepada masyarakat luas.