HARIAN NEGERI, Jakarta — Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) memilih menahan diri untuk tidak mengajukan penawaran (bidding) sebagai tuan rumah World Climbing Series 2026. Keputusan tersebut diambil menyusul dinamika dan sensitivitas internasional pascapolemik penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta.

Ketua Umum FPTI Yenny Wahid menegaskan, langkah tersebut bukan disebabkan menurunnya minat maupun kapasitas Indonesia sebagai penyelenggara ajang olahraga dunia, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian agar cabang olahraga panjat tebing tidak terdampak persoalan di luar aspek teknis olahraga.

“Imbas dari kejuaraan senam tahun lalu yang menjadi isu sensitif di publik, tahun ini kami tidak ikut bidding. Padahal rencana awalnya ingin ikut. Kami memilih melihat perkembangan ke depan. Semoga tahun depan bisa kembali menjadi tuan rumah,” ujar Yenny kepada ANTARA melalui pesan instan di Jakarta, Rabu.

Sejak 2022, Indonesia tercatat rutin menjadi tuan rumah seri World Cup panjat tebing dan menjelma sebagai salah satu destinasi penting dalam kalender kompetisi internasional. Namun, situasi global serta konsekuensi dari polemik sebelumnya membuat FPTI memprioritaskan stabilitas pembinaan dan kesiapan atlet nasional.

Polemik yang dimaksud merujuk pada Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta, ketika Pemerintah Indonesia menolak memberikan visa kepada atlet Israel sebagai bentuk sikap politik terhadap agresi Israel di Gaza. Keputusan tersebut memicu respons internasional, termasuk sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC), meski Federasi Senam Internasional (FIG) menyatakan dukungan dengan menegaskan bahwa kebijakan visa berada dalam kewenangan pemerintah tuan rumah.

Sementara itu, World Climbing secara resmi telah merampungkan kalender World Climbing Series 2026 dengan total 13 seri yang mempertandingkan disiplin boulder, lead, dan speed. Empat seri di antaranya akan digelar di China, masing-masing di Keqiao, Wujiang, Guiyang, dan Chongqing.

Musim 2026 akan dibuka di Keqiao pada 1–3 Mei untuk nomor boulder, kemudian berlanjut ke Wujiang pada 8–10 Mei dengan nomor lead dan speed. Paruh akhir musim di China diisi dua seri speed beruntun di Guiyang dan Chongqing pada September.

Rangkaian kompetisi selanjutnya akan bergulir di Eropa, Amerika Serikat, hingga Amerika Selatan, dengan seri penutup dijadwalkan berlangsung di Santiago, Chile, pada akhir Oktober. World Climbing juga masih membuka peluang penambahan satu seri World Climbing Para Series.