Oleh: Syaefunnur Maszah


"Saya pernah mendengar sebuah perdebatan yang menarik. Ada yang berpendapat, 'Yang terpenting bagi umat Islam adalah kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Jika itu dijalankan dengan baik, persoalan umat akan selesai dengan sendirinya.' Namun, ada pula yang menanggapi, 'Kembali kepada Al-Qur'an memang penting, tetapi jika umat tidak memahami perkembangan teknologi, ekonomi, dan sains, mereka hanya akan menjadi penonton di tengah perubahan zaman.'

Menurut saya, kedua pandangan tersebut sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Justru, tantangan umat Islam abad ke-21 adalah bagaimana menjadikan ilmu agama sebagai fondasi moral, sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana membangun kemaslahatan. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa keduanya pernah berjalan beriringan dan melahirkan masa keemasan yang dikenang dunia."

Al-Qur'an Mengajarkan Membaca Wahyu dan Membaca Realitas

Allah SWT berfirman:

"Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi wakhtilaafil laili wan nahaari la aayaatil li ulil albaab."

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali Imran: 190).

Dalam ilmu nahwu, kata "inna" berfungsi sebagai huruf penegas, menunjukkan bahwa informasi setelahnya adalah sesuatu yang sangat penting. Sementara frasa "la aayaatin" diperkuat lagi dengan huruf "lam", sehingga ayat ini mengandung penegasan berlapis bahwa alam semesta adalah objek yang layak dipelajari.

Dari sudut ilmu sharaf, kata "khalq" berasal dari akar kata khalaqa, yang berarti menciptakan atau membentuk. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa manusia tidak hanya diminta mengagumi ciptaan Allah, tetapi juga mempelajarinya untuk kemaslahatan.

Ulama besar abad ke-14, Imam Badruddin az-Zarkasyi dalam kitab Al-Burhan fi Ulum al-Qur'an, menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengandung ayat-ayat qauliyah (wahyu tertulis) dan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda di alam semesta). Keduanya saling melengkapi.

Karena itu, belajar agama dan mempelajari sains sesungguhnya bukan dua jalan yang berbeda, melainkan dua cara membaca tanda-tanda kebesaran Allah.

Ulama Klasik Justru Mengajarkan Pentingnya Memahami Realitas

Ada anggapan bahwa ulama terdahulu hanya berkutat pada persoalan ibadah. Padahal, banyak karya klasik menunjukkan sebaliknya.

Imam Syihabuddin al-Qarafi dalam kitab Al-Furuq memperkenalkan sebuah kaidah yang sangat relevan hingga hari ini:

"Al-hukmu 'alasy syai'i far'un 'an tashawwuruhi."

"Memberikan hukum terhadap sesuatu bergantung pada pemahaman yang benar tentang sesuatu itu."

Maksudnya sederhana. Seseorang tidak bisa memberikan penilaian yang tepat terhadap persoalan baru jika ia belum memahami hakikat persoalan tersebut.

Misalnya, untuk membahas kecerdasan buatan (AI), transaksi digital, mata uang kripto, rekayasa genetika, atau keamanan siber, diperlukan pemahaman yang memadai tentang bidang tersebut. Dengan begitu, pandangan keagamaan dapat disampaikan secara lebih utuh dan relevan.

Ulama lain yang menarik adalah Muhammad al-Tahir Ibn Ashur melalui kitab Maqasid al-Syari'ah al-Islamiyyah. Menurutnya, tujuan syariat adalah menghadirkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, setiap perkembangan ilmu yang membawa manfaat bagi masyarakat layak dipelajari dan dikembangkan selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

Pandangan ini memberikan pesan bahwa umat Islam tidak perlu takut terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengarahkan kemajuan tersebut untuk kebaikan bersama.

Mengapa Literasi Digital, Finansial, dan Sains Menjadi Penting?

Allah SWT berfirman:

"Wa a'idduu lahum mastatha'tum min quwwah."

"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu sanggupi." (QS. Al-Anfal: 60).

Dalam ilmu sharaf, kata "mastatha'tum" berasal dari akar kata istatha'a, yang berarti kemampuan yang diusahakan secara sungguh-sungguh. Sementara Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir menjelaskan bahwa makna "quwwah" atau kekuatan dapat berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Jika pada masa lalu kekuatan identik dengan perlengkapan militer, maka pada masa kini kekuatan juga mencakup pendidikan, ekonomi, teknologi, riset, kesehatan, dan inovasi.

Realitas dunia menunjukkan hal itu.

Indonesia kini memiliki lebih dari 220 juta pengguna internet. Namun, berbagai survei menunjukkan bahwa masyarakat masih menghadapi tantangan dalam menyaring informasi dan menghindari penipuan digital.

Dalam bidang ekonomi, literasi keuangan nasional terus meningkat, tetapi kasus investasi ilegal dan penipuan daring masih berulang.

Di bidang sains dan teknologi, negara-negara yang berinvestasi besar dalam riset cenderung memiliki daya saing ekonomi yang lebih tinggi.

Kondisi ini memberikan pelajaran bahwa memahami ayat tentang kejujuran dalam berdagang sangat penting, tetapi memahami sistem ekonomi modern juga tidak kalah penting agar masyarakat tidak mudah menjadi korban penipuan.

Demikian pula, memahami etika bermedia sosial perlu dibarengi kemampuan memverifikasi informasi agar tidak mudah menyebarkan berita yang keliru.

Menuju Muslim Abad ke-21: Menggabungkan Iman dan Kompetensi

Dua ulama kontemporer memberikan perspektif yang menarik.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas berpendapat bahwa tantangan utama umat bukan sekadar kekurangan ilmu, tetapi hilangnya adab dalam menggunakan ilmu. Kemajuan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.

Sementara Prof. Ismail Raji al-Faruqi mengembangkan gagasan integrasi ilmu pengetahuan. Menurutnya, pemisahan tajam antara ilmu agama dan ilmu umum justru menghambat kemajuan um5at. Pendidikan ideal adalah pendidikan yang mampu memadukan keduanya.

Implikasi pemikiran ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Guru agama dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pendidikan.

Santri dapat mempelajari pemrograman komputer untuk mengembangkan aplikasi Al-Qur'an atau platform pembelajaran Islam.

Pengusaha Muslim dapat memahami keuangan modern agar mampu membangun usaha yang sehat dan beretika.

Dokter, insinyur, ekonom, dan ilmuwan Muslim dapat menjadikan profesinya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus ibadah kepada Allah.

Kita juga mulai melihat contoh-contoh yang menggembirakan. Sejumlah pesantren di Indonesia telah mengembangkan program kewirausahaan, pertanian modern, teknologi informasi, hingga robotika tanpa meninggalkan kajian kitab kuning. Ini menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan bersama.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu memaknai kembali doa yang sangat akrab di telinga umat Islam:

"Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar."

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka."

Kebaikan dunia tidak hanya berarti kesejahteraan materi, tetapi juga pendidikan yang baik, kemajuan ilmu pengetahuan, kemandirian ekonomi, dan kemampuan menghadapi tantangan zaman. Sementara kebaikan akhirat diperoleh ketika semua itu dijalankan dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak.

Karena itu, tantangan umat Islam hari ini bukan memilih antara kitab atau komputer, antara masjid atau laboratorium, atau antara agama dan sains. Tantangan sesungguhnya adalah membangun generasi yang mampu membaca Al-Qur'an dengan baik, memahami perkembangan dunia dengan bijak, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Barangkali di situlah makna Islam sebagai rahmatan lil 'alamin menemukan wujudnya pada abad ke-21: agama menjadi kompas moral, ilmu pengetahuan menjadi sarana kemajuan, dan keduanya bersatu untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.