HARIAN NEGERI, Jakarta – Kader Pelajar Islam Indonesia (PII) melalui kajian lingkungan menyoroti masih kompleksnya persoalan lingkungan di Kota Palembang. Selain banjir yang kerap terjadi saat musim hujan, keterbatasan fasilitas Tempat Penampungan Sementara (TPS), meningkatnya volume sampah, dan rendahnya kesadaran masyarakat dinilai menjadi tantangan yang harus segera diatasi melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Kajian tersebut mengungkapkan bahwa pertumbuhan penduduk dan pembangunan kawasan perkotaan yang terus meningkat belum sepenuhnya diimbangi dengan pemerataan infrastruktur pengelolaan sampah. Di sejumlah wilayah, masyarakat masih mengalami keterbatasan akses terhadap TPS sehingga muncul titik-titik pembuangan sampah liar yang berdampak pada pencemaran lingkungan dan penyumbatan saluran drainase.

Berdasarkan penelitian Saputra dkk. (2026), distribusi fasilitas TPS di kawasan permukiman, khususnya di wilayah bantaran sungai Kota Palembang, masih belum merata sehingga diperlukan perencanaan spasial yang lebih baik agar pelayanan persampahan dapat menjangkau seluruh masyarakat.

Selain persoalan sampah, banjir juga masih menjadi masalah yang berulang di berbagai titik Kota Palembang. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa kondisi geografis Palembang sebagai kota dataran rendah, ditambah penyempitan drainase, sedimentasi, alih fungsi lahan, dan sampah yang menyumbat saluran air menjadi faktor utama penyebab terjadinya genangan ketika curah hujan tinggi.

Ketua Lokal Advance Training PII, Syarif Hidayatullah, mengatakan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak dapat dilakukan hanya dengan membangun infrastruktur, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat.

"Permasalahan lingkungan di Kota Palembang merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah perlu memastikan pemerataan fasilitas pengelolaan sampah, khususnya Tempat Penampungan Sementara (TPS), agar masyarakat memiliki akses yang memadai untuk membuang sampah dengan benar. Di sisi lain, masyarakat juga harus membangun budaya disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan," ujar Syarif saat diminta keterangan, Sabtu (27/6/2026).

Menurutnya, pelajar memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Melalui organisasi Pelajar Islam Indonesia, kader didorong untuk aktif dalam edukasi pengelolaan sampah, kegiatan penghijauan, serta mengajak masyarakat menerapkan pola hidup yang lebih ramah lingkungan.

"Sebagai pelajar, kami tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kepedulian terhadap persoalan sosial dan lingkungan. Menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kami berharap gerakan pelajar dapat menjadi pelopor perubahan melalui aksi nyata di sekolah maupun di tengah masyarakat," tambahnya.

PII menilai bahwa penyelesaian persoalan lingkungan di Palembang harus dilakukan secara komprehensif melalui peningkatan kualitas layanan persampahan, penambahan dan pemerataan fasilitas TPS, optimalisasi program Bank Sampah, perbaikan sistem drainase, serta penguatan edukasi lingkungan kepada masyarakat. Dengan langkah tersebut, Kota Palembang diharapkan mampu mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.