HARIAN NEGERI - Suara gitar yang bising, dentuman drum yang menghentak, dan vokal keras yang menggema memenuhi ruang Studio Bubuara di kawasan Jelekong Kabupaten Bandung.Namun malam itu, perhatian penonton tidak hanya tertuju pada penampilan band metal Pourriture. Di hadapan mereka, seorang pelukis bergerak liar di depan kanvas besar, mengayunkan cambuk yang telah dicelupkan ke dalam cat. Setiap hentakan cambuk meninggalkan jejak warna yang tak terduga, seolah menjadi terjemahan visual dari amarah dan kegelisahan yang dilantunkan musik.Pertunjukan bertajuk eksplorasi Unggut Kiwa tersebut mempertemukan seniman lukis Arya Sudrajat dengan band metal Pourriture.
Keduanya merupakan warga Jelekong yang selama ini aktif berkarya dari wilayah yang kerap dianggap berada di pinggiran pusat kebudayaan Bandung.Digelar di Yayasan Bubuara Jelekong, kolaborasi ini bukan sekadar pertemuan dua disiplin seni. Pertunjukan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan persoalan yang selama ini hidup di wilayah selatan Kabupaten Bandung: buruh pabrik, limbah industri, serta kerusakan ekologis yang terus membayangi kawasan hulu hingga hilir Daerah Aliran Sungai Citarum.Lagu-lagu yang dibawakan Pourriture banyak berbicara mengenai kehidupan kelas pekerja. Tentang tubuh-tubuh yang setiap hari masuk pabrik, tentang tenaga yang diperas oleh sistem produksi, hingga tentang lingkungan yang harus menanggung beban limbah industri.
Narasi tersebut kemudian diterjemahkan Arya melalui aksi melukis langsung yang jauh dari teknik konvensional.Alih-alih menggunakan kuas, Arya memilih cambuk sebagai alat utama. Setiap ayunan menghasilkan percikan dan garis-garis yang kasar, spontan, bahkan terkadang sulit dikendalikan. Gerakan tubuhnya mengikuti ritme musik yang semakin cepat dan agresif.“Musik Pourriture banyak berbicara tentang buruh dan kerusakan lingkungan.
Saya mencoba meresponsnya bukan dengan gambar yang ilustratif, tetapi melalui gestur tubuh.
Cambuk menjadi simbol tekanan, disiplin, sekaligus kekerasan yang sering hadir dalam kehidupan pekerja maupun terhadap alam,” ujar Arya usai pertunjukan, Senin (2/6).Dalam tradisi masyarakat Sunda, istilah Unggut Kiwa kerap merujuk pada sesuatu yang berada di gerakan kiri, Gagasan itu kemudian menjadi titik berangkat kolaborasi mereka.Bagi Arya, wilayah selatan Bandung sering kali dipandang hanya sebagai daerah penyangga kota. Padahal, kawasan ini menyimpan sejarah panjang industri, pertanian, seni, hingga berbagai persoalan ekologis yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.“Kami sama-sama lahir dan tumbuh di Jelekong.
Selama ini wilayah selatan Bandung sering dianggap pinggiran.
Padahal banyak gagasan, banyak persoalan, dan banyak praktik kebudayaan yang hidup di sini. Kolaborasi ini adalah cara kami menghidupkan ruang itu sekaligus mempertanyakan stereotip tentang pinggiran,” katanya.Sepanjang pertunjukan, penonton menyaksikan bagaimana suara dan visual saling membangun ketegangan.
Ketika lagu-lagu Pourriture mencapai klimaks, ayunan cambuk Arya semakin keras. Cat merah, hitam, dan putih berhamburan ke kanvas, membentuk lapisan-lapisan yang menyerupai lanskap luka: antara tubuh pekerja, tanah yang tercemar, dan sungai yang kehilangan daya hidupnya.Bagi Pourriture, isu buruh dan ekologi bukan tema yang datang dari kejauhan.
Sebagian besar anggota band hidup di tengah kawasan industri Kabupaten Bandung yang dalam beberapa dekade terakhir mengalami pertumbuhan pesat.
Bersamaan dengan itu, muncul berbagai persoalan lingkungan yang dirasakan langsung oleh warga.Karena itu, pertunjukan ini tidak dimaksudkan sebagai hiburan semata.


Komentar