Penulis: Hilda Kusuma Kalbu
Pendahuluan
Baca Juga :
Philosophische Grondslag Indonesia
Karl Popper dikenal luas sebagai filsuf yang mengubah cara dunia memandang ilmu pengetahuan melalui konsep falsifikasi. Namun, hanya sedikit orang yang menyadari bahwa ia juga mengembangkan teori tiga dunia (Three Worlds Theory) pada akhir tahun 1960-an untuk menjawab pertanyaan mendasar tentang apa itu realitas dan bagaimana pengetahuan objektif bisa ada.
Popper sebenarnya ingin keluar dari perdebatan lama antara kaum materialis yang hanya mengakui dunia fisik, dan idealis yang menganggap pikiran sebagai realitas tertinggi. Popper tidak puas dengan kedua pemikiran itu. Menurutnya, dunia fisik nyata, namun dunia mental juga nyata. Dan masih terdapat dunia ketiga yang sering dilupakan, yaitu dunia hasil pemikiran manusia yang sudah menjadi objek lepas dan independen dari penciptanya.
Teori tiga dunia Karl Popper merupakan kajian ontologi filosofis yang membagi realitas menjadi tiga alam berbeda yang saling berinteraksi.
Dunia Objek Fisik
Dunia pertama adalah dunia yang paling akrab bagi kita, yaitu dunia benda-benda fisik, material, dan alam semesta. Batu, api, gunung, planet, dan semua benda yang memiliki massa, termasuk ke dalam dunia ini. Ciri utama dunia fisik ialah keberadaannya yang tidak bergantung pada pengamat. Gunung Himalaya akan tetap ada meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Dunia ini juga bersifat publik dan terukur. Siapa saja dapat mengukur suhu air, atau menimbang massa batu dengan hasil yang kurang lebih sama. Popper sebenarnya tidak menolak bahwa dunia fisik itu nyata, yang ia tolak adalah pandangan bahwa hanya dunia pertama yang nyata. Menurutnya, dunia kedua dan dunia ketiga memiliki realitasnya sendiri, dan realitas itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan merujuk pada dunia fisik. Pikiran, misalnya, memang berkaitan dengan otak. Tapi menjelaskan pikiran hanya sebagai aktivitas neuron sama saja dengan kehilangan esensi dari apa itu pikiran.
Dunia Keadaan Mental
Dunia kedua adalah dunia pengalaman subjektif. Ketika seseorang merasa bahagia, sedih, marah, mengingat masa lalu, atau membayangkan masa depan, ia berada di dunia ini. Dunia kedua berbeda dari dunia pertama karena tidak bisa diukur secara absolut. Anda bisa mengatakan bahwa anda sangat bahagia, tetapi tidak ada alat yang bisa mengukur kebahagiaan tersebut.
Dunia kedua bersifat privat, sehingga hanya pemilik kesadaran itu sendiri yang dapat mengaksesnya secara langsung, sementara orang lain hanya bisa menebak dari perilaku atau dari apa yang anda katakan. Popper bersikeras bahwa untuk memahami dunia kedua, tidak cukup hanya melihat gerak-gerik sel di otak. Dokter mungkin dapat melihat saraf anda, namun ia tidak bisa merasakan rasa sakit anda. Disitulah letak jelas perbedaan keduanya.
Dunia Hasil Pikiran yang Objektif
Sekarang kita sampai ke dunia ketiga. Inilah yang paling khas dari pemikiran Popper. Dunia ini berisi hasil pemikiran manusia yang telah menjadi objek lepas dan independen dari penciptanya. Teori ilmiah, hipotesis, argumen, buku, artikel, karya seni, lagu, bahkan perangkat lunak komputer, semuanya termasuk ke dalam dunia ketiga.
Popper memberi contoh sederhana yakni sebuah buku yang berisi teori Einstein tentang relativitas. Buku merupakan benda fisik yang termasuk dunia pertama. Tapi isi buku itu, yaitu teori relativitas itu sendiri, tidak bisa disamakan dengan buku fisiknya. Teori di dalamnya tetap sama meskipun dicetak di ribuan buku yang berbeda. Teori inilah yang termasuk dunia ketiga.
Sifat paling penting dari dunia ketiga adalah objektivitasnya. Sebuah teori ilmiah tidak bergantung pada apakah ada orang yang sedang memikirkannya. Teori relativitas tetap menjadi teori meskipun tidak ada seorang pun yang sedang membacanya saat itu. Ia telah lepas dari penciptanya dan menjadi milik bersama.
Contoh lain adalah bilangan prima. Manusia menciptakan sistem bilangan. Namun dari situ muncullah fakta-fakta tentang bilangan prima yang tidak pernah direncanakan. Fakta bahwa 7 adalah bilangan prima dan bahwa ada bilangan prima yang tak terhingga adalah sesuatu yang kita temukan, bukan kita buat. Fakta-fakta ini sudah ada di dunia ketiga dan menunggu untuk ditemukan.
Popper bahkan memberikan eksperimen pikiran yang terkenal untuk menunjukkan betapa nyatanya dunia ketiga. Jika terjadi bencana yang menghancurkan semua mesin dan pengetahuan yang tersimpan di kepala manusia, tetapi perpustakaan selamat, maka peradaban manusia bisa bangkit kembali dengan cepat. Namun jika perpustakaan ikut hancur, maka peradaban akan butuh waktu yang sangat lama untuk pulih. Eksperimen ini menunjukkan bahwa dunia ketiga memiliki memiliki realitas dan kekuatan tersendiri.
Mengapa Teori Tiga Dunia Penting bagi Ilmu
Teori ini membawa beberapa implikasi penting. Pertama, pengetahuan ilmiah tidak sama dengan apa yang ada di dalam kepala seseorang. Sebuah temuan penelitian belum menjadi bagian dari ilmu pengetahuan selama ia masih berada di benak penelitinya. Ia baru menjadi ilmu ketika dituangkan ke dalam dunia ketiga, misalnya dalam bentuk artikel atau buku. Inilah sebabnya publikasi begitu ditekankan di dunia akademik.
Kedua, teori ini menunjukkan betapa pentingnya melestarikan dunia ketiga. Perpustakaan, museum, arsip, pusat data, dan lembaga penelitian adalah tempat-tempat di mana dunia ketiga disimpan dan dikembangkan. Merusak atau mengabaikan institusi-institusi ini berarti merusak fondasi peradaban itu sendiri. Dalam sejarah, penghancuran pusat-pusat pengetahuan seringkali menjadi awal dari kemunduran suatu peradaban.
Ketiga, dunia ketiga hanya bisa berkembang dalam lingkungan yang bebas. Ia membutuhkan kritik, perdebatan, dan perbaikan terus-menerus. Ia tidak bisa tumbuh dalam rezim otoriter di mana kebenaran sudah ditentukan dari atas dan tidak boleh diganggu gugat. Karena itulah Popper menghubungkan teori tiga dunianya dengan konsep masyarakat terbuka yang sangat ia perjuangkan.
Keempat, ada tanggung jawab etis bagi para ilmuwan, insinyur, dan seniman. Dunia ketiga memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi dunia fisik dan dunia mental. Teori fisika nuklir bisa digunakan untuk menghasilkan listrik yang murah atau untuk membuat senjata pemusnah massal. Dunia ketiga tidak memiliki moralitas sendiri. Moralitas datang dari manusia yang menggunakannya. Karenanya, para penghasil dunia ketiga tidak bisa lepas tangan dari dampak ciptaan mereka.
Penutup
Teori tiga dunia Popper menawarkan cara pandang yang berbeda tentang realitas. Kita tidak hanya hidup di antara benda-benda fisik. Kita juga hidup dalam dunia perasaan dan pengalaman subjektif. Dan yang paling penting, kita hidup dalam dunia gagasan, ilmu, dan hasil pemikiran yang sudah menjadi milik bersama.
Dunia ketiga inilah yang membuat peradaban manusia bisa terus maju. Pengetahuan tidak mati bersama penciptanya. Ia disimpan, dikritik, diperbaiki, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah teori ini tetap relevan, tidak hanya bagi para filsuf, tetapi bagi siapa saja yang peduli dengan ilmu dan pengetahuan.


Komentar