HARIAN NEGERI - Serang, (1 Juni 2026), Generasi muda Banten kembali menunjukkan komitmennya dalam mengawal masa depan bangsa melalui penyelenggaraan Diskusi Publik bertajuk “Peran Pemuda dan Mahasiswa dalam Mengawal Transparansi dan Akuntabilitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”. 

Kegiatan yang diinisiasi oleh Pemuda Berdampak, BEM Institut Banten, dan berbagai elemen kepemudaan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat partisipasi publik dalam mengawal salah satu program prioritas nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Mengusung semangat “MBG: Masa Depan Indonesia Cerah 2045, Dari Tanah Jawara untuk Indonesia Nusantara”, forum ini menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan, pengawasan, dan partisipasi aktif dari pemuda, mahasiswa, akademisi, serta masyarakat luas.

Founder Pemuda Berdampak, Bagas Yulianto, menegaskan bahwa Program MBG merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Program Makan Bergizi Gratis adalah langkah strategis untuk menciptakan fondasi tersebut. Namun, keberhasilannya harus dibarengi dengan transparansi dan akuntabilitas yang kuat. Dari Tanah Jawara, kami mengajak seluruh pemuda Indonesia untuk ikut mengawal program ini demi masa depan bangsa yang lebih cerah,” ujar Bagas. 

Ketua BEM Institut Banten Periode 2025–2026, Nana Supriatna, menilai bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan dan kontrol sosial terhadap kebijakan publik.

“Mahasiswa harus hadir sebagai kekuatan moral yang memastikan setiap kebijakan negara berjalan sesuai tujuan dan kepentingan rakyat. Program MBG harus menjadi contoh bagaimana anggaran negara dapat dikelola secara efektif, transparan, dan tepat sasaran demi melahirkan generasi unggul menuju 2045,” ungkap Nana.

Sementara itu, Yogi Syahputra Alaydrus, Koordinator Pusat BEM PTMAI Se-Indonesia, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan generasi muda dalam mengawal keberlangsungan program.

“Program MBG bukan sekadar kebijakan sosial, tetapi investasi kebangsaan. Keterlibatan mahasiswa dalam mengawal implementasi program ini merupakan bentuk tanggung jawab intelektual untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi penerus bangsa,” kata Yogi.

Dari perspektif hukum dan tata kelola pemerintahan, M. Nurul Hakim, Ketua Umum Permahi Banten 2025–2026, menegaskan bahwa prinsip transparansi dan akuntabilitas harus menjadi landasan utama dalam pelaksanaan program nasional.

“Setiap kebijakan publik yang menggunakan anggaran negara wajib dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengawasan yang dilakukan pemuda dan mahasiswa merupakan bentuk partisipasi demokratis untuk memastikan program berjalan sesuai regulasi dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ucap Nurul Hakim.

Melalui diskusi publik ini, para narasumber berharap lahir gagasan, rekomendasi, dan gerakan kolektif yang mampu memperkuat pengawasan partisipatif terhadap Program MBG. Dengan semangat kolaborasi, generasi muda diyakini dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan tata kelola program yang bersih, transparan, dan berdampak.

Dari Banten sebagai Tanah Jawara, semangat perubahan dan pengabdian terus dikobarkan untuk Indonesia. Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya tentang pemenuhan kebutuhan gizi hari ini, tetapi tentang menyiapkan generasi unggul yang akan memimpin bangsa pada tahun 2045.

Karena masa depan Indonesia yang cerah dimulai dari generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Dari Tanah Jawara untuk Indonesia Nusantara, menuju Indonesia Emas 2045.