HARIAN NEGERI, Jakarta – Pimpinan Cabang Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PC SEMMI) Kediri Raya adham Hakam Amrulloh atau mas adam secara tegas menyatakan penolakan keras terhadap wacana penerapan sistem Full Day School (FDS) untuk tingkat sekolah dasar di wilayah Kabupaten Kediri.

Kebijakan ini dinilai sebagai langkah mundur yang tidak berbasis pada realitas psikologis anak dan struktur sosial keagamaan masyarakat Kediri.

Mas adam menegaskan bahwa memaksakan anak-anak usia dini untuk menghabiskan mayoritas waktunya di dalam ruang kelas formal adalah bentuk eksploitasi akademis terselubung.

"Anak-anak usia SD itu dunia utamanya adalah bermain dan bersosialisasi secara natural, bukan dijejali beban belajar formal yang berlebihan dari pagi hingga sore. Mengurung mereka di sekolah sepanjang hari sama saja dengan merenggut hak hakiki masa kanak-kanak mereka," ujarnya kepada tim media, Sabtu (20/6/2026).

PC SEMMI Kediri Raya menggarisbawahi tiga dosa besar jika wacana Full Day School ini tetap dipaksakan di Kabupaten Kediri:

Pertama, Eksploitasi Psikologis: Merampas Hak Bermain Anak. Anak usia Sekolah Dasar berada pada fase emas pertumbuhan motorik dan sosial melalui bermain. Menambah jam sekolah secara drastis hanya akan menciptakan kejenuhan massal, stres dini, dan merusak mentalitas pembelajar alami pada anak. Sekolah harus menjadi tempat yang dirindukan, bukan penjara akademis yang melelahkan.

Kedua, Mengikis Ikatan Emosional Keluarga. Pulang sekolah dalam kondisi fisik yang terkuras di sore hari diyakini akan memotong ruang dialog antara orang tua dan anak. Ketika anak pulang dalam keadaan lelah dan stres, waktu di rumah hanya tersisa untuk istirahat, bukan interaksi berkualitas. Kebijakan ini berpotensi besar merapuhkan ketahanan keluarga dan menjauhkan fungsi edukasi moral yang seharusnya dipegang oleh orang tua.

Ketiga, Membunuh Eksistensi Madin dan TPQ (Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat). Kediri memiliki akar kultur religius yang sangat kuat lewat keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Jika Full Day School diterapkan, eksistensi institusi pendidikan keagamaan tradisional ini dipastikan akan gulung tikar karena kehilangan santri yang kelelahan sekolah formal. Ini adalah langkah fatal yang akan menghilangkan ruang bagi anak untuk melebur dan belajar tata krama, mengaji, serta bersosialisasi di tengah masyarakatnya sendiri.

Mas adam mengingatkan pemerintah daerah bahwa indikator kemajuan pendidikan tidak diukur dari seberapa lama anak disekap di dalam kelas, melainkan dari efektivitas dan kebahagiaan mereka dalam menyerap ilmu.

"Kami menuntut Dinas Pendidikan dan pemangku kebijakan di Kabupaten Kediri untuk membatalkan wacana ini. Jangan korbankan masa depan mental anak-anak Kediri dan jangan hancurkan tatanan pendidikan moral-keagamaan di Madin dan TPQ demi syahwat regulasi yang tidak membumi. Jika wacana ini tetap dipaksakan, SEMMI Kediri Raya siap menggalang gerakan perlawanan bersama masyarakat dan wali murid," pungkas mas adam