HARIAN NEGERI, Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyatakan perguruan tinggi diperbolehkan memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai sarana teaching factory yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk praktik langsung sekaligus mendukung kegiatan penelitian.

Pernyataan tersebut disampaikan Brian dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (2/6). Menurutnya, keberadaan SPPG di lingkungan kampus dapat terintegrasi dengan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung program nasional melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ada beberapa kampus yang membuat SPPG dalam rangka teaching factory, dalam rangka mahasiswa praktik, dalam rangka itu juga sekaligus diteliti, yaitu kami mempersilahkan kepada kampus-kampus tersebut,” ujar Brian Yuliarto.

Ia menjelaskan, pelibatan perguruan tinggi dalam Program MBG merupakan bagian dari kontribusi sivitas akademika terhadap berbagai program strategis nasional. Menurutnya, dukungan kampus terhadap MBG sejalan dengan keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan berbagai sektor prioritas pemerintah, seperti industri kendaraan listrik, semikonduktor, hingga pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall.

Meski demikian, Brian menegaskan bahwa pendirian SPPG di lingkungan kampus bukan merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan seluruh perguruan tinggi. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tidak pernah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan setiap kampus membangun fasilitas tersebut.

“Jadi, kami tidak pernah ada edaran kebijakan bahwa setiap kampus harus mendirikan SPPG, itu tidak pernah ada. Tapi yang kita dorong adalah kependidikan kampus dalam seluruh program-program nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Brian menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam melakukan penelitian jangka panjang untuk mengukur dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, riset akademik sangat diperlukan untuk memastikan efektivitas program dalam meningkatkan kualitas gizi dan menurunkan angka stunting di Indonesia.

“Jadi yang kami dorong adalah bagaimana lakukan riset-riset untuk misalnya stuntingnya bagaimana, dicek. Saya pernah mendapatkan paper di India bahwa program makan bergizi berhasil meningkatkan perbaikan gizi dan menurunkan stunting. Nah, ini yang perlu dikaji dalam jangka panjang, yang barangkali tidak terpikir oleh para pengelola SPPG,” ujarnya.

Melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi, pemerintah berharap Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya menjadi program pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menghasilkan data dan temuan ilmiah yang dapat menjadi dasar penyempurnaan kebijakan gizi nasional di masa mendatang.