HARIAN NEGERI - JAKARTA, Pengurus Wilayah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PW SEMMI) Jakarta Raya menggelar Resepsi Milad ke-70 tahun atau 7 Dekade SEMMI pada Kamis, (2/4/2026).
Acara yang berlangsung khidmat ini mengangkat tema sentral "Mengukuhkan Khittah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi". Sebagai bentuk penghormatan terhadap akar sejarah organisasi, rangkaian milad diawali dengan prosesi doa bersama dan ziarah tokoh di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.
Para kader memberikan penghormatan khusus di makam pendiri SEMMI, Arudji Kartawinata, serta tokoh legendaris Syarikat Islam, K.H. Agus Salim.
Sinergi Serumpun Syarikat Islam
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga momentum silaturahmi bagi keluarga besar Syarikat Islam.

Turut hadir dalam acara tersebut jajaran pimpinan organisasi serumpun tingkat DKI Jakarta, di antaranya Perisai SI DKI Jakarta, Pemuda Muslimin DKI Jakarta, serta seluruh Kader SEMMI se-Jakarta Raya.
Ketua PW SEMMI Jakarta Raya, Yanto, dalam orasinya menyampaikan bahwa peringatan 70 tahun ini merupakan refleksi panjang untuk mengenang kembali dedikasi para pendiri.
"Kegiatan ini adalah bentuk nyata kami mengenang perjalanan dan perjuangan para pendiri SEMMI dan Syarikat Islam. Kami ingin semangat dan nilai-nilai perjuangan tersebut termanifestasi sepenuhnya ke dalam jiwa seluruh kader SEMMI di Jakarta Raya," ujar Yanto.
Memasuki usia tujuh dekade, Yanto menekankan pentingnya penguatan fondasi organisasi melalui ideologisasi. Menurutnya, hal tersebut adalah modal awal bagi setiap kader agar arah gerak organisasi tetap konsisten.
"Di umur ke-70 tahun ini, penanaman nilai-nilai ideologi pada kader merupakan modal awal perjuangan. Tanpa ideologisasi yang kuat, arah gerak kita akan menjadi tidak konsisten," tegasnya.
Selain aspek ideologi, Yanto juga menyoroti pentingnya Kemandirian Ekonomi. Ia mendorong kader SEMMI untuk mulai membangun kedaulatan ekonomi secara mandiri sebagai penopang pergerakan mahasiswa yang progresif dan independen.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan bangsa dan keutuhan organisasi, mempertegas posisi SEMMI sebagai pilar penggerak intelektual Muslim di Indonesia.


Komentar