HARIAN NEGERI, Jakarta - Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) bersama PII Wati menjadi narasumber dalam program Selamat Pagi Teman Proz TOSERBA (Topik Serba Ada) dengan tema “Akselerasi Edu-Digital & Socio-preneurship” di Studio RRI Pro 2 Pontianak, Senin (18/5/2026).
Hadir sebagai pembicara, Sekretaris Jenderal PB PII, Atqiya Fadhil Rahman dan Ketua Koordinator Pusat PII Wati, Melisa. Diskusi tersebut membahas tantangan kaderisasi, perkembangan dunia digital, hingga peran generasi muda dalam membangun ruang sosial yang positif di era digital.
Dalam pemaparannya, Atqiya Fadhil Rahman menceritakan pengalaman awal mengenal PII serta dinamika dalam proses kaderisasi organisasi. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya merekrut kader, tetapi menjaga konsistensi kader agar tetap aktif dan berkembang di dalam organisasi.
“Mengkader itu mudah, tapi menjaga kader agar tetap stabil di PII itu susah. Dan menurutku Sumsel berhasil membuat aku untuk terus berada di PII,” ujar Atqiya.
Sementara itu, Ketua Koordinator Pusat PII Wati, Melisa, menekankan pentingnya peran instruktur dan kader PII yang melek digital dalam menjawab kebutuhan pelajar masa kini. Ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya dijadikan sebagai alat bantu, tetapi juga ruang untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial di kalangan pelajar.
“Karena kita masuk ke zaman yang serba digital, jadi instruktur itu harus melek digital. Tidak hanya menjadikan teknologi sebagai alat bantu, tapi mereka mau terlibat dan berpikir mau ngapain dengan digital itu,” kata Melisa.
Menurutnya, pembahasan mengenai edu-digital erat kaitannya dengan persoalan sosial dan kebutuhan pelajar saat ini. Oleh sebab itu, instruktur PII harus memiliki orientasi kebermanfaatan di tengah masyarakat.
“Sebagai manusia, sebaik-baiknya adalah yang bermanfaat, dan itu harus dimiliki oleh instruktur PII,” tambahnya.
Melisa juga menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak terjebak dalam budaya serba instan di era digital. Ia berharap teknologi dapat digunakan sebagai sarana untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Dengan serba digital ini memang tidak menutup kemungkinan menjadikan generasi Z serba instan. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita menggunakan digital sebagai alat untuk menjadi orang yang bermanfaat di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, langkah sederhana seperti membuat konten positif hingga berani bersuara mengenai hak-hak pelajar dan isu sosial sudah menjadi kontribusi penting dalam membangun arus informasi yang sehat di media digital.


Komentar