HARIAN NEGERI - Palangka Raya, Di tengah derasnya arus digitalisasi yang membentuk generasi serba instan dan budaya “scroll tanpa henti”, Pelajar Islam Indonesia (PII) Kalimantan Tengah justru memilih menyalakan harapan baru. Jumat pagi, 16 Mei 2026, Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah.
Kegiatan tersebut, dipenuhi semangat perjuangan saat Pelantikan Pengurus Wilayah (PW) PII Kalimantan Tengah dirangkaikan dengan Peringatan Hari Bangkit (HARBA) PII ke-79 Tahun digelar secara khidmat dan penuh makna.
Mengusung tema “Revitalisasi Gerakan Pelajar Islam Indonesia sebagai Rumah Kaderisasi dan Wadah Kolaborasi Pengembangan Pelajar dalam Mewujudkan Kalteng Cerdas untuk Menyambut Indonesia Emas 2045,” kegiatan tersebut menjadi penegasan bahwa gerakan pelajar Islam tetap relevan sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial di tengah tantangan zaman modern.
Kegiatan Pelantikan PW PII Kalimantan Tengah Sekaligus Hari Bangkit ke-79 Tahun PII, dihadiri berbagai unsur penting daerah, mulai dari tokoh masyarakat, unsur pemerintahan, organisasi kepemudaan, hingga para pelajar dari berbagai sekolah di Kota Palangka Raya. Tampak hadir perwakilan Kanwil Kemenag Prov. Kalteng, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), organisasi pelajar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kalimantan Tengah, Rohis Kota Palangka Raya Raya, serta delegasi pelajar dari sejumlah sekolah. Kehadiran lintas elemen tersebut menjadi simbol bahwa pembangunan generasi muda tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi kolektif seluruh komponen bangsa.

Suasana aula semakin hidup ketika sambutan Ketua KB PII Kalimantan Tengah sekaligus mewakili Bupati Barito Selatan, Dr. H. Eddy Raya Samsuri, S.T., M.M., disampaikan oleh Drs. H. Rois Mahfud, M.Pd. Dalam pidatonya, ia menyinggung fenomena “generasi scroll” yang kini menjadi realitas baru kehidupan pelajar. Menurutnya, tantangan zaman tidak lagi hanya soal keterbatasan informasi, melainkan ledakan informasi tanpa arah yang berpotensi melahirkan degradasi nilai dan krisis karakter.
Karena itu, ia menegaskan bahwa PII harus hadir bukan sekadar sebagai organisasi formal, tetapi sebagai ruang pembinaan yang melahirkan generasi literatif, kritis, produktif, dan berakhlak mulia.
“Pelantikan hari ini adalah awal dari amanah perjuangan. Pemimpin bukan soal jabatan, melainkan tentang tanggung jawab dan pengabdian. Harus siap bekerja, siap melayani, siap mendengar, dan siap berkembang demi organisasi serta umat,” tegasnya di hadapan peserta dan tamu undangan.
Dukungan penuh terhadap eksistensi PII juga disampaikan oleh perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah melalui Kabid Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam, H. Elly Saputra, S.Pd., M.Si. Ia menilai bahwa kompleksitas persoalan pelajar hari ini membutuhkan kehadiran organisasi yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga benar-benar hadir membersamai realitas kehidupan generasi muda.
Menurutnya, PII memiliki posisi strategis dalam membangun karakter, spiritualitas, dan kesadaran intelektual pelajar di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks. Ia juga berharap komunikasi dan sinergi antara PII dengan Kementerian Agama terus diperkuat, khususnya dalam pelaksanaan program-program pembinaan dan pengembangan pelajar di Kalimantan Tengah.
Sementara itu, Ketua Umum PW PII Kalimantan Tengah terpilih, Haerul Anwar, tampil membawa semangat baru gerakan pelajar Islam di Bumi Tambun Bungai. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa PW PII Kalimantan Tengah bukanlah “pulau yang terisolasi”, melainkan bagian dari ekosistem besar kemajuan daerah. Karena itu, PII hadir untuk menjadi jembatan bagi seluruh potensi pelajar agar dapat tumbuh dan berkembang secara inklusif.
“Kami tidak ingin hanya menjadi organisasi yang hidup di atas nama dan atribut semata. PII harus menjadi rumah yang terbuka, tempat setiap pelajar merasa diterima untuk belajar, bertumbuh, dan menemukan arah perjuangannya,” ucap Haerul penuh optimisme.
Di balik suksesnya kegiatan tersebut, Ketua Panitia Abdul Sani menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar rutinitas tahunan organisasi. Menurutnya, HARBA PII ke-79 harus menjadi momentum refleksi sekaligus titik kebangkitan baru bagi gerakan pelajar Islam.
“Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum penting untuk menguatkan kembali peran Pelajar Islam Indonesia sebagai rumah kaderisasi, tempat lahirnya generasi pelajar yang berilmu, berakhlak, dan memiliki komitmen perjuangan,” ungkapnya.
Sebagai sambutan terakhir, perwakilan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia, Abdul Rohim, S.T., memberikan penegasan ideologis mengenai tantangan besar dunia pelajar di era digital. Ia menyoroti keterbukaan akses informasi yang begitu luas, namun di saat bersamaan melahirkan krisis nilai, etika, dan literasi digital di kalangan generasi muda.
“Dalam situasi itulah, PII harus hadir sebagai problem solver yang mampu menjadi ruang solusi, ruang pembinaan, sekaligus ruang perjuangan pelajar,” tegas Rohim.
Ia kembali menegaskan trilogi perjuangan PII yaitu Muslim, Cendekia, dan Pemimpin, sebagai fondasi utama membangun generasi pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial.
Pelantikan PW PII Kalimantan Tengah dan HARBA PII ke-79 akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan usia organisasi. Ia menjelma menjadi simbol kebangkitan harapan, bahwa di tengah dunia yang terus bergerak cepat, masih ada ruang perjuangan yang menjaga idealisme, membina karakter, dan menyalakan cahaya kepemimpinan di kalangan pelajar.
Dari Aula Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Tengah pagi itu, semangat perjuangan kembali diteguhkan, bahwa pelajar bukan hanya pewaris masa depan, tetapi juga penentu arah peradaban bangsa menuju Indonesia Emas 2045.


Komentar