Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebhinekaan,
Yang saya hormati rekan-rekan mahasiswa seperjuangan, serta seluruh elemen masyarakat Indonesia yang menyaksikan pernyataan ini.
Saya, Fajar Syahidin bertindak selaku perwakilan mahasiswa Universitas MH Thamrin sekaligus Presma BEM UMHT, hadir di sini untuk menyampaikan sikap resmi kami menyusul peristiwa yang sangat memalukan dan mencoreng wajah gerakan mahasiswa.
Malam ini, kami mendengar dan menyaksikan pengakuan dari Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, saudara Muhammad Abdi, yang menyatakan bahwa dirinya menerima sejumlah uang dari pihak kepolisian pasca pertemuan 15 mahasiswa perwakilan UBK dan MH Thamrin dengan Wakil Presiden.
Kami dari MH Thamrin hadir dalam aksi tersebut dengan membawa hasil kajian tuntutan oleh kawan kawan mahasiswa yang hadir dalam konsolidasi pada [13/06/2026], kami menilai bahwa pengakuan dari Ketua BEM FH UBK sebagai koordinator aksi gabungan ubk-thamrin hanyalan klaim sepihak.
Kami berbicara tentang isu kenaikan harga, ketimpangan pendidikan, dan program-program yang belum berpihak pada masyarakat kecil. Itulah misi kami. Bukan uang. Bukan imbalan. Dan kami menegaskan bahwa, kami tidak menerima, terlibat, terafiliasi atau apapun segala bentuk kepentingan politik praktis.
Dengan ini, kami menyatakan dengan sungguh-sungguh dan di hadapan publik:
Pertama, bahwa seluruh mahasiswa MH Thamrin yang tergabung dalam rombongan 15 orang TIDAK PERNAH menerima, mengetahui, atau terlibat dalam transaksi atau pemberian uang apa pun dari pihak kepolisian ataupun pihak mana pun. Kami datang untuk menyuarakan hati nurani, bukan untuk dagang aspirasi.
Kedua, kami mengecam keras dan mengutuk tindakan penerimaan uang yang diakui sendiri oleh Ketua BEM FH UBK tersebut. Perbuatan itu, menurut kami, telah mencederai secara fundamental nilai-nilai perjuangan mahasiswa, yaitu: independensi, idealisme, dan keberpihakan kepada rakyat.
Ketiga, kami menilai bahwa satu peristiwa ini—meskipun hanya dilakukan oleh segelintir orang—berpotensi besar menimbulkan skeptisisme rakyat terhadap seluruh gerakan mahasiswa. Masyarakat akan bertanya: "Apakah selama ini mahasiswa berdemo hanya demi uang?" atas dasar tersebut kami menolak stigma itu. Kami hadir untuk membuktikan bahwa mahasiswa masih bisa dipercaya.
Keempat, Mengimbau masyarakat untuk tidak serta merta menggeneralisasi insiden ini pada seluruh gerakan mahasiswa, karena masih banyak elemen mahasiswa yang berjuang dengan integritas dan idealisme.
Dan sampai saat ini, kami memandang bahwa undangan dalam Istana Wapres adalah sebuah gerakan murni, dan pada akhirnya kami kecewa karena adanya pengkhiatan nilai-nilai dari gerakan mahasiswa.
Kami menuntut pada BEM FH UBK bahwa kami tidak terlibat atas insiden yang memalukan dan merendahkan martabat pada jati diri mahasiswa, dan menunggu i'tikad baik untuk meminta maaf atas insiden ini karena telah merugikan nama baik Universitas dan BEM kami.
Kami menegaskan bahwa gerakan mahasiswa harus kembali pada khittahnya sebagai agen perubahan dan kontrol sosial yang bersih dari intervensi uang dan kepentingan politik praktis. Hanya dengan demikian, suara mahasiswa tetap dipercaya sebagai representasi suara rakyat yang sesungguhnya.


Komentar