Sekitar sepertiga penduduk Mesir lahir setelah Arab Spring 2011. Pergeseran demografi ini mengubah arah sosial, ekonomi, dan politik negara dengan populasi lebih dari 120 juta jiwa.

Dilansir dari Al Jazeera, data kependudukan terbaru menunjukkan bahwa sekitar 37 juta warga Mesir—atau sekitar 31 persen dari total populasi—lahir setelah peristiwa Arab Spring 2011 yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak setelah tiga dekade berkuasa. Artinya, jutaan warga muda Mesir saat ini tidak memiliki memori kolektif tentang gelombang protes besar di Lapangan Tahrir yang mengubah arah sejarah negara tersebut.

Bagi generasi ini, Arab Spring bukanlah pengalaman hidup, melainkan sekadar catatan sejarah yang mereka dengar dari orang tua atau pelajari di sekolah.

Ledakan Penduduk Muda dan Hilangnya Memori Kolektif

Mesir kini termasuk salah satu negara dengan populasi termuda di dunia. Usia rata-rata penduduknya sekitar 24 tahun, jauh di bawah rata-rata global yang berada di angka 31 tahun. Lebih dari setengah populasi Mesir berusia di bawah 24 tahun, dan sekitar 37 juta di antaranya bahkan belum berusia 15 tahun.

Kondisi ini menciptakan fenomena sosiologis penting: hilangnya memori kolektif tentang revolusi 2011. Generasi baru ini tumbuh dalam konteks politik dan sosial yang berbeda, tanpa pengalaman langsung terhadap represi rezim lama, euforia revolusi, maupun turbulensi masa transisi.

Akibatnya, orientasi hidup mereka pun lebih pragmatis. Fokus utama bukan lagi pada tuntutan perubahan politik radikal, tetapi pada pendidikan, pekerjaan, akses teknologi, dan gaya hidup global.

Tantangan Ekonomi: Bonus Demografi atau Beban Demografi?

Di balik potensi besar bonus demografi, Mesir menghadapi tekanan ekonomi yang signifikan. Negara ini masih bergulat dengan inflasi tinggi, pelemahan mata uang, serta keterbatasan lapangan kerja bagi lulusan muda.

Menurut Forum Riset Ekonomi, Mesir perlu menciptakan sekitar 1,5 juta lapangan kerja baru setiap tahun, namun selama dua dekade terakhir hanya mampu menyediakan sekitar 600 ribu pekerjaan per tahun. Ketimpangan antara pertumbuhan penduduk dan penciptaan lapangan kerja ini menjadi risiko sosial jangka panjang.

Meski tingkat pengangguran nasional turun ke 6,4 persen, pengangguran pemuda usia 15–29 tahun masih berada di kisaran 14,9 persen, berdasarkan data CAPMAS (Badan Pusat Statistik Mesir).

Sementara itu, jumlah mahasiswa pendidikan tinggi mencapai 3,6 juta orang dan ditargetkan meningkat menjadi 5,6 juta pada 2032, seiring tuntutan ekonomi modern dan transformasi digital.

Daya Beli Turun, Tekanan Hidup Meningkat

Secara makro, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Mesir memang meningkat dari USD 2.590 pada 2011 menjadi USD 3.339 saat ini. Namun, pelemahan nilai tukar membuat daya beli masyarakat justru tertekan. Jika pada 2011 satu dolar setara 5,8 pound Mesir, kini nilainya mendekati 47 pound Mesir per dolar AS.

Artinya, meskipun pendapatan nominal naik, biaya hidup meningkat jauh lebih cepat. Kondisi ini berdampak langsung pada generasi muda yang sedang memasuki usia produktif, membentuk persepsi mereka terhadap masa depan dan stabilitas ekonomi negara.

Generasi Digital dan Perubahan Pola Aspirasi

Lebih dari 80 persen warga Mesir kini merupakan pengguna internet aktif, dengan dominasi kuat dari kalangan muda. Media sosial, ekonomi digital, dan konektivitas global membentuk pola pikir yang berbeda dibanding generasi pra-2011.

Jika generasi Arab Spring digerakkan oleh narasi kebebasan politik, generasi pasca-Arab Spring lebih terdorong oleh mobilitas sosial dan peluang ekonomi. Legitimasi pemerintah dinilai bukan dari retorika ideologis, melainkan dari kemampuan negara menyediakan pekerjaan, pendidikan berkualitas, dan stabilitas harga.

Stabilitas Politik Bergantung pada Kesejahteraan Ekonomi

Secara strategis, keberadaan 37 juta warga tanpa memori revolusi menciptakan semacam “lembaran baru” dalam lanskap sosial-politik Mesir. Pemerintah memiliki ruang untuk membangun narasi pembangunan dan stabilitas tanpa dibayangi trauma konflik politik masa lalu.

Namun, risiko tetap besar. Generasi muda yang pragmatis ini memiliki toleransi rendah terhadap stagnasi ekonomi. Jika ekspektasi hidup layak tidak terpenuhi, potensi ketidakpuasan sosial tetap ada, meskipun ekspresinya bisa berbeda dari pola protes 2011.

Dengan kata lain, masa depan stabilitas Mesir lebih ditentukan oleh keberhasilan kebijakan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, bukan oleh kontrol politik semata.

Masa Depan Mesir Ada di Tangan Generasi yang Tak Mengenal Revolusi

Fakta bahwa sepertiga warga Mesir lahir setelah Arab Spring menunjukkan betapa cepatnya transisi generasi terjadi. Generasi ini tidak dibentuk oleh memori revolusi, tetapi oleh realitas ekonomi, teknologi, dan globalisasi.

Jika pemerintah mampu mengubah bonus demografi menjadi kekuatan produktif melalui investasi pendidikan, industri, dan kewirausahaan, Mesir berpeluang memetik manfaat jangka panjang. Namun jika gagal, tekanan sosial dari jutaan pemuda tanpa prospek ekonomi dapat menjadi tantangan stabilitas berikutnya.

Dalam konteks inilah, masa depan Mesir tidak lagi ditentukan oleh warisan 2011, melainkan oleh bagaimana negara menjawab kebutuhan generasi pasca-Arab Spring hari ini.