HARIAN NEGERI, Jakarta - Insiden yang terjadi dalam kegiatan Resepsi Hari Bangkit (HARBA) ke-79 Pelajar Islam Indonesia (PII) di Pontianak, Selasa (5/5/2026), menuai sorotan. Peristiwa tersebut diduga mengganggu jalannya acara dan dinilai mencederai nilai-nilai demokrasi serta kebebasan berorganisasi di Indonesia.

Ahmad Zaim Syah, Mantan Sekretaris Umum PW PII Sumatera Utara 2001-2003, menilai bahwa dinamika dalam organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui dialog, tabayyun, dan musyawarah, bukan dengan tindakan yang berpotensi memicu konflik.

“Perbedaan sikap dan pandangan adalah hal biasa dalam organisasi. Penyelesaiannya harus melalui komunikasi yang baik dan saling menghormati,” ujar Ahmad Zaim Syah dalam keterangannya kepada media, Selasa (5/5/2026).

Sebagai organisasi kader, PII dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dengan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis. Prinsip ukhuwah Islamiyah menjadi fondasi utama dalam membangun solidaritas dan menjaga hubungan antaranggota.

Menurut Ahmad Zaim yang juga Mantan Ketua Umum PD PII Medan 1999-2001, setiap dinamika yang terjadi seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam membentuk karakter kader yang kuat dan berintegritas. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan yang tangguh lahir dari proses panjang yang penuh tantangan.

Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan penyelesaian yang bijak demi menjaga kondusivitas serta keutuhan organisasi.

“Kita berharap semua pihak dapat menjaga situasi tetap kondusif dan mengedepankan nilai persaudaraan,” tutupnya.