HARIAN NEGERI, Jakarta - Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bangkit Nasional ke-78 dan pembukaan Sidang Dewan Pleno Nasional (SDPN) Pelajar Islam Indonesia (PII) tahun 2025, PII menggelar Diskusi Arah Gerak PII di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Kamis (29/5/2025).
Diskusi ini menjadi ruang reflektif dan proyektif bagi PII dalam menghadapi dinamika zaman serta menjawab tantangan regenerasi kepemimpinan pelajar Islam Indonesia. Tiga narasumber utama yang hadir adalah tokoh-tokoh Ketua Umum PB PII lintas periode.
Pembicara pertama Muhammad Zaid Makarma (Ketua Umum PB PII 2006–2008).
Dalam pandangannya, Zaid menekankan pentingnya keselarasan gerakan dari pusat hingga daerah. Ia mengingatkan bahwa PB PII harus membangun sensitivitas terhadap realitas pelajar saat ini.
“Pengurus Besar tidak cukup hanya dekat dengan elit politik. Ia harus mampu membaca kondisi riil pelajar di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti permasalahan kaderisasi tidak normal di beberapa wilayah, yang berdampak pada minimnya regenerasi kader yang mampu melanjutkan ke level nasional.
Lanjut pembicara kedua, Husin Tasrik Makrup Nasution (Ketua Umum PB PII 2017–2021).
Husin menyampaikan urgensi menciptakan “musuh bersama” dalam konteks perjuangan organisasi agar PII tidak tertidur dalam kenyamanan.
“PII harus punya isu bersama yang menjadi alasan gerakan ini hidup. Dan isu ini harus terdistribusi ke seluruh wilayah,” tegasnya.
Menurutnya, organisasi juga harus disiapkan secara sistematis dalam tiga hal utama: pengorganisiran gerakan, kaderisasi yang berkelanjutan, dan penyiapan kader menghadapi tantangan di luar organisasi.
Lebih lagi pembicara ketiga, Abdul Kohar Ruslan (Ketua Umum PB PII 2023–2025).
Kohar membuka pandangannya dengan mengulas sejarah kebangkitan PII sebagai ruang lintas generasi. Ia menyoroti adanya tantangan sekat antar generasi (Gen Y, Gen Z) serta dampak signifikan pasca-COVID-19 terhadap kualitas dan kuantitas kader.
Dalam forum ini, Kohar memaparkan tiga prioritas utama PB PII saat ini:
Peningkatan kualitas dan kuantitas kader, sebagai respon terhadap stagnasi pascapandemi.
Digitalisasi organisasi, termasuk penguatan website PII untuk database kader, peluang usaha, hingga manajemen kesekretariatan.
Penguatan nilai ideologis dan spiritualitas pelajar Islam sebagai poros utama gerakan.
“Ini momentum untuk menyusun ulang langkah. PII harus relevan, tidak hanya dalam narasi sejarah, tapi dalam praksis gerakan pelajar hari ini,” pungkasnya.
Diskusi ini menjadi bagian penting dari proses konsolidasi nasional PII, sekaligus wujud keseriusan organisasi dalam menyusun arah gerak strategis yang berakar pada sejarah, menjawab realita, dan mempersiapkan masa depan.

Komentar