HARIAN NEGERI, Jakarta - Psikolog klinis Alsi Mega Marsha Tengker, B.A., M.Sc., M.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya keseimbangan antara kepercayaan dan perlindungan dalam mendampingi anak beraktivitas di ruang digital. Menurutnya, kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri sekaligus terlindungi dari berbagai risiko di internet.
Dalam acara “#AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia” di Jakarta, Kamis, psikolog yang akrab disapa Caca itu menjelaskan bahwa hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan akan memudahkan orang tua dalam menerapkan aturan kepada anak.
“Kalau kita ngomongin memberikan perlindungan dan kepercayaan itu perlu diseimbangkan. Kalau anak udah percaya sama kita, kita kasih peraturan apa aja mereka dengan 'oke bu' gitu ya gampang,” ujar Caca.
Ia menjelaskan bahwa kepercayaan dari orang tua menjadi fondasi penting bagi perkembangan rasa percaya diri anak. Pada tahap awal, anak meminjam rasa percaya dari orang tuanya sebelum akhirnya mampu membangun keyakinan terhadap dirinya sendiri. Meski demikian, orang tua tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan perlindungan dan pengawasan yang sesuai.
Menurut Caca, keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan harus disesuaikan dengan usia serta tingkat kematangan anak. Anak-anak yang masih kecil membutuhkan pengawasan lebih ketat karena belum mampu mengambil keputusan secara mandiri. Namun seiring bertambahnya usia, orang tua dapat secara bertahap memberikan ruang yang lebih besar bagi anak untuk belajar bertanggung jawab.
Dalam konteks penggunaan teknologi, Caca menilai berbagai fitur pengawasan digital yang tersedia saat ini dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk mendampingi anak tanpa menghilangkan unsur kepercayaan. Fitur-fitur tersebut dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan diskusi dalam keluarga mengenai aktivitas anak di internet.
“Tujuannya Ibu tahu, bukan karena enggak percaya, tapi itu tanggung jawab orang tua. Kita sama-sama sesuai dengan fungsinya masing-masing, anak fungsinya memang belajar salah satunya dari orang tuanya,” jelasnya.
Caca mengingatkan bahwa perlindungan tanpa kepercayaan dapat menimbulkan rasa takut pada anak, sementara kepercayaan tanpa perlindungan justru membuat anak rentan terhadap berbagai risiko di dunia digital.
“Kepercayaan tanpa perlindungan itu menghasilkan kerentanan, anak kita jadi rentan di internet. Itu juga bukan sesuatu yang kita mau. Makanya keseimbangan itu perlu kita jaga dan pelajari lebih lanjut,” katanya.
Lebih lanjut, Caca menyoroti pentingnya membangun healthy digital habits atau kebiasaan digital yang sehat di lingkungan keluarga. Menurutnya, tujuan utama dari pendampingan digital bukan sekadar membatasi waktu penggunaan gawai, melainkan membangun kemampuan self-regulation atau pengendalian diri pada anak.
Dengan kemampuan tersebut, anak diharapkan mampu memahami konten yang layak dikonsumsi, mengelola waktu penggunaan internet secara mandiri, serta berani berdiskusi dengan orang tua ketika menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan usia maupun nilai yang dianut keluarga.
Ia menegaskan bahwa kunci utama dalam membangun kebiasaan digital yang sehat adalah konsistensi. Orang tua tidak perlu menuntut hasil yang sempurna dalam waktu singkat, melainkan terus membiasakan pola penggunaan teknologi yang positif dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang paling penting bukan sekadar berapa lama menontonnya, tetapi bagaimana itu menjadi kebiasaan yang membantu mereka meregulasi diri mereka sendiri di dunia digital,” ujarnya.
Selain itu, Caca menekankan pentingnya keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan antara orang tua dan anak. Menurutnya, anak perlu memahami alasan di balik setiap aturan yang dibuat sehingga mereka tidak hanya patuh, tetapi juga memahami tujuan dari aturan tersebut.
“Jujur itu bisa jadi habit yang penting kita konsisten, enggak usah harus langsung semuanya perfect, tapi kita bisa konsisten melakukan itu setiap harinya, jujur sama anak,” kata Caca.
Melalui keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan, serta penerapan kebiasaan digital yang sehat secara konsisten, orang tua diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi tumbuh kembang anak di era digital.


Komentar