HARIAN NEGERI - Tim Redaksi Harian Negeri telah melakukan penelusuran fakta mendalam terkait informasi yang beredar luas dengan judul '[SALAH] Hoaks Tautan Diskon Tarif Listrik & Tambah Daya Ramadhan 2026'. Berdasarkan pantauan kami, isu ini telah memicu beragam tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial.

Hasil Pemeriksaan Fakta

Setelah melakukan kroscek data dan memverifikasi sumber-sumber terkait, kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara narasi yang beredar dengan fakta yang ada di lapangan. Tim Redaksi berupaya menyajikan klarifikasi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Tim Redaksi Harian Negeri - Sebuah unggahan beredar di media sosial, mengklaim bahwa PT PLN (Persero) mengumumkan diskon tarif listrik dan diskon tambah daya sebesar 50 persen, dalam rangka menyambut Ramadhan 2026. Klaim tersebut disebarkan oleh akun Facebook bernama “Olivia bumn” (arsip) pada 15 Februari 2026. “Kabar baik untuk masyarakat Indonesia! Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 2026, PT PLN (Persero) mengumumkan diskon tarif listrik sebesar 50%. Program ini bertujuan mendukung pemerintah dalam memberikan stimulus ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat,” tulis pengunggah dalam takarir. #gpt-inline3-passback{text-align:center;} Kemudian, dalam unggahan tersebut, pengunggah menempelkan gambar dengan teks berbeda dari takarir sebelumnya, “Menyambut Ramadan 2026, Diskon Tambah Daya 50%, Tambahan Diskon 50% Untuk Masyarakat, Berlaku untuk Konsumen Semua Golongan Tarif, Dengan Melakukan Pembelian Token, Segera, Daftar dan Claim”. #gpt-inline4-passback{text-align:center;} Pada bagian bawah unggahan, pengunggah mencantumkan tautan untuk mengklaim diskon tersebut, yakni daftarsekarang55.trctgikl.web.id. Hingga artikel ini ditulis pada Selasa (18/02/2026), unggahan tersebut sudah mendapatkan 24 tanda suka dan satu komentar. Lantas, bagaimana kebenaran dari klaim tersebut? Periksa Fakta Diskon Ramadhan PLN. foto/hotline periksa fakta Tim Redaksi Harian Negeri

Kesimpulan

Berdasarkan seluruh bukti dan data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut masuk dalam kategori SALAH. Narasi yang dibangun cenderung manipulatif dan tidak didukung oleh bukti otoritatif dari instansi terkait.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penyebaran berita palsu atau hoaks. Selalu lakukan verifikasi mandiri dan hanya merujuk pada informasi resmi guna menghindari kerugian akibat disinformasi digital yang marak terjadi.


Rujukan Informasi: Lihat Data Sumber Asli