Penulis: Bunga Ayudhia Paramitha
Indonesia dikenal kaya tradisi dan kearifan lokal karena keberagaman suku, budaya, dan wilayahnya, yang terwujud dalam upacara adat, seni, kuliner, pakaian adat, serta nilai-nilai luhur seperti gotong royong dan penghormatan alam, menjadi aset identitas nasional, daya tarik wisata, dan pondasi toleransi yang perlu dilestarikan di era modernisasi. Di era modernisasi sekarang ini, salah satu Budaya yang tetap terjaga kelestariannya yaitu Upacara Adat Ngasa. Upacara Adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Gandoang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Upacara ini merupakan ritual sakral yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur dan memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat Gandoang.
Asal-Usul dan Makna Filosofis Ngasa
Asal-usul Upacara Adat Ngasa di Desa Gandoang (Brebes) adalah wujud rasa syukur turun temurun kepada Tuhan dan leluhur atas berkah alam di kaki Gunung Sagara, telah ada sejak masa pra-sejarah (food gathering/producing), dan merupakan warisan budaya Sunda yang terkait dengan figura spiritual seperti Batara Windu Buana, yang kini dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal dan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Tradisi ini berbentuk sedekah gunung (nasi jagung, umbi-umbian) yang melambangkan harmoni dengan alam dan ajaran leluhur, seperti pola makan vegetarian yang dianut Burian Panutus, ajudan Batara Windu Buana.
Makna filosofis Ngasa terletak pada kesadaran manusia akan keterbatasannya serta ketergantungan hidup pada alam dan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, ritual ini menjadi momentum refleksi diri bagi masyarakat untuk hidup lebih sederhana, rendah hati, dan selaras dengan lingkungan sekitar.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Upacara Ngasa
Upacara Adat Ngasa di Desa Gandoang, Brebes, adalah ritual syukur tahunan pada Selasa Kliwon bulan Maret (bulan ketiga), di Gunung Sagara, berisi ziarah, sedekah hasil bumi (jagung, umbi) ke leluhur, ritual buang sial (Micen), dan doa bersama untuk kesejahteraan, menunjukkan nilai kearifan lokal religius, sosial, dan budaya yang dilestarikan turun-temurun. Pelaksanaannya melibatkan juru kunci naik gunung malam hari, dilanjutkan kegiatan di desa dengan hiburan rakyat, dan makanan khas seperti nasi jagung dimakan bersama. Seluruh rangkaian upacara dilaksanakan secara khidmat dan penuh ketertiban.
Tidak semua orang diperkenankan melanggar aturan adat selama upacara berlangsung, karena masyarakat meyakini bahwa ketaatan terhadap tata cara adat merupakan kunci keberkahan dan keselamatan bersama.
Rangkaian Prosesi Upacara Adat Ngasa
Rangkaian upacara Ngasa diawali dengan berbagai persiapan, baik secara lahir maupun batin. Masyarakat membersihkan lingkungan, menyiapkan sesaji, serta mengumpulkan hasil bumi seperti padi, jagung, dan umbi-umbian sebagai simbol rasa syukur.
Prosesi utama dipimpin oleh tokoh adat yang membacakan doa-doa dan mantra adat. Seluruh warga mengikuti rangkaian upacara dengan sikap khidmat dan tertib. Setelah ritual doa selesai, hasil bumi yang dibawa menjadi simbol kebersamaan dan kesejahteraan yang dinikmati bersama oleh masyarakat.
Peran Tokoh Adat dan Masyarakat
Tokoh adat memiliki peran sentral dalam pelaksanaan Upacara Ngasa. Mereka bertanggung jawab menjaga kemurnian tata cara adat serta memastikan seluruh rangkaian upacara berjalan sesuai tradisi leluhur. Selain itu, tokoh adat juga berperan sebagai pendidik budaya bagi generasi muda. Masyarakat desa berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan upacara. Keterlibatan kolektif ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong dan rasa kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Gandoang.
Kesimpulan
Upacara adat Ngasa di Desa Gandoang merupakan tradisi yang tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen dan rezeki yang diterima masyarakat, tetapi juga sebagai sarana mempererat tali silaturahmi serta menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Nilai‐nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur yang tercermin dalam setiap tahapan ritual menunjukkan bahwa Ngasa memiliki makna sosial, spiritual, sekaligus kultural yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
Di tengah arus modernisasi, keberlangsungan upacara Ngasa menjadi bukti kuatnya komitmen masyarakat Desa Gandoang dalam melestarikan warisan budaya lokal. Tradisi ini tidak hanya berperan sebagai identitas komunitas, tetapi juga menjadi media edukasi lintas generasi agar nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan relevan dalam kehidupan masyarakat masa kini maupun di masa mendatang.

Komentar