HARIAN NEGERI - Palu, (14 Juni 2026), Himpunan Pelajar Mahasiswa Dampelas (HPMD) menggelar peringatan Milad ke-24 yang dirangkaikan dengan dialog kebudayaan bertema “Dampelas Bertahan: Menjaga Identitas Daerah di Tengah Arus Modernisasi” pada Ahad malam (14/6) di Gedung Kesenian Kota Palu.
Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WITA hingga selesai tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan untuk memperkuat persatuan masyarakat Dampelas dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Dialog menghadirkan dua narasumber, yakni Mechdam Alikais Farisy, seniman Dampelas yang mewakili Yayasan Tadulakota, serta Opick Delian Alindra, pemuda pelestari budaya Dampelas yang juga merupakan Dewan Pertimbangan HPMD.
Ketua Umum HPMD, Septiani Susba Yuska, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Milad ke-24 bukan sekadar perayaan usia organisasi, melainkan momentum untuk mempererat hubungan antarwarga Dampelas yang tersebar di berbagai daerah, khususnya di Kota Palu.
“Milad HPMD tahun ini kami jadikan sebagai ruang silaturahmi dan penguatan persatuan masyarakat Dampelas. Kami ingin HPMD terus menjadi rumah bersama yang mampu menyatukan gagasan, semangat, dan kontribusi generasi muda untuk daerah,” ujar Septiani.
Sementara itu, Opick Delian Alindra menegaskan bahwa masa depan Dampelas tidak akan ditentukan oleh pihak luar, melainkan oleh kesadaran masyarakat Dampelas sendiri untuk bangkit dan berbenah.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi saat ini, mulai dari ketimpangan pembangunan, melemahnya identitas budaya, hingga minimnya perhatian terhadap potensi daerah, hanya dapat diatasi melalui persatuan dan gerakan kolektif masyarakat.
“Kunci kemajuan Dampelas terletak pada kesadaran segenap masyarakatnya untuk terus berbenah, merapatkan persatuan, kemudian membangun gerakan menjaga identitas itu sendiri. Karena yang bisa menolong Dampelas hanya orang Dampelas itu sendiri. Kita tidak mau terus-terusan saling menonton ketimpangan yang terjadi. Dan semua itu harus dimulai dari persatuan,” tegas Opick di hadapan peserta dialog.
Pernyataan tersebut mendapat apresiasi dari peserta yang hadir karena dinilai merepresentasikan kegelisahan sekaligus harapan generasi muda terhadap masa depan Dampelas.
Dalam kesempatan yang sama, Mechdam Alikais Farisy menyoroti pentingnya peran Dampelas sebagai simpul pemersatu bagi rumpun-rumpun yang memiliki keterkaitan sejarah dan budaya di kawasan pesisir utara Sulawesi Tengah.
Menurutnya, masyarakat Dampelas harus mampu mengambil peran sebagai pelopor dalam mempererat hubungan antarsuku serumpun yang selama ini berkembang secara terpisah.
“Dampelas harus menjadi pelopor pemersatu rumpun yang telah terpisah-pisah, seperti Pendau, Lauje, Tajio, Awesang, Dondo, dan beberapa kelompok masyarakat serumpun Austronesia lainnya. Kita memiliki ikatan sejarah dan kebudayaan yang kuat untuk kembali dipererat,” ungkap Mechdam.
Melalui peringatan Milad ke-24 ini, HPMD menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah kaderisasi, pelestarian budaya, dan penguatan identitas masyarakat Dampelas. Tema “Dampelas Bertahan” menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga jati diri budaya dan memperkuat persatuan merupakan fondasi utama bagi kemajuan daerah.
Milad HPMD tahun ini tidak hanya menjadi perayaan organisasi, tetapi juga menjadi panggung kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat Dampelas untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat solidaritas, dan menatap masa depan dengan semangat persatuan yang lebih kokoh.


Komentar