HARIAN NEGERI - Surabaya, Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kota Surabaya periode 2024–2026 menyelenggarakan kegiatan Ramadhan Student Talk sebagai bagian dari rangkaian program besar Gebyar Ramadan, pada Sabtu, (14/3/2026). 

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kota Surabaya mulai pukul 10.00 hingga 12.30 WIB dan diikuti lebih dari 60 peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA se-Kota Surabaya yang merupakan perwakilan pengurus OSIS dari berbagai sekolah.

Kegiatan ini mengusung tema “Ramadhan & The Rise of Conscious Youth: Iman, Kesadaran Kritis, dan Kepemimpinan Generasi Muda dalam Menentukan Arah Masa Depan Indonesia.” Tema tersebut dipilih sebagai refleksi atas pentingnya peran generasi muda, khususnya pelajar, dalam membangun kesadaran intelektual, spiritual, serta kepemimpinan di tengah dinamika perubahan sosial di era modern.

Agenda ini terselenggara melalui kolaborasi antara PD PII Kota Surabaya dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya sebagai fasilitator penyedia tempat, serta dukungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dari kalangan mahasiswa, yakni Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Provinsi Jawa Timur, Muhammad Aqmaddin - Presiden Mahasiswa Universitas Islam Lamongan, serta Koordinator Daerah BEM SI Kota Surabaya, Bima Dharma - Presiden Mahasiswa Telkkom University Surabaya.

Dalam sambutannya, perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya menyampaikan apresiasi atas inisiatif PII Kota Surabaya yang menghadirkan ruang dialog konstruktif bagi pelajar. Menurutnya, kegiatan pendidikan nonformal seperti diskusi dan forum intelektual memiliki peran penting dalam memperkuat karakter, wawasan, serta kemampuan berpikir kritis pelajar.

“Forum-forum seperti ini sangat penting karena pelajar tidak hanya mendapatkan pembelajaran formal di kelas, tetapi juga ruang dialog bersama kakak-kakaknya dari kalangan mahasiswa untuk bertukar gagasan dan memperluas perspektif mereka,” ujar perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Ketua Umum PD PII Kota Surabaya, Dede Muhtadin, yang juga merupakan mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus moderator kegiatan, menjelaskan bahwa Pelajar Islam Indonesia merupakan organisasi pelajar yang memiliki sejarah panjang dalam pembinaan generasi muda.

Menurutnya, PII telah hadir sejak sebelum masa kemerdekaan dan secara resmi bangkit pada 4 Mei 1947 sebagai wadah pembinaan pelajar mulai dari tingkat SMP, SMA hingga mahasiswa dalam penguatan karakter, moral, serta kepemimpinan.

“Ketika kita berbicara tentang pendidikan, maka ini bukan hanya tanggung jawab satu organisasi saja. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, baik pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, maupun organisasi masyarakat,” ujar Muhtadin.

Ia menambahkan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor utama dalam menentukan masa depan bangsa. Oleh karena itu, investasi terbesar yang harus dilakukan Indonesia adalah memperkuat sektor pendidikan.

“Ketika sumber daya manusia Indonesia difasilitasi dengan pendidikan yang baik, maka akan lahir generasi yang berkualitas. Jika SDM Indonesia berkualitas, maka cita-cita besar Indonesia Emas 2045 bukanlah sekadar mimpi,” tambahnya.

Diskusi dalam kegiatan tersebut mengangkat isu utama mengenai krisis idealisme generasi muda, khususnya di tengah dinamika sosial dan politik yang semakin kompleks. Moderator mengawali dialog dengan pertanyaan terkait fenomena menurunnya idealisme sebagian generasi muda yang kerap diiringi dengan sikap pragmatis serta rendahnya kepercayaan terhadap praktik kepemimpinan publik.

IMG-20260315-WA0077
 

Menanggapi hal tersebut, Koordinator BEM SI Jawa Timur, Muhammad Aqmaddin -Presiden Mahasiswa Asal Universitas Islam Lamongan, menjelaskan bahwa krisis idealisme generasi muda dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, hingga pergaulan sosial.

Menurutnya, pelajar saat ini juga menghadapi tekanan aktivitas akademik yang cukup padat sehingga sering kali tidak memiliki ruang yang cukup untuk melakukan refleksi diri maupun pengembangan kapasitas intelektual di luar kegiatan formal sekolah.

“Pelajar hari ini memiliki jadwal yang sangat padat, mulai dari sekolah sejak pagi hingga sore hari, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan tambahan seperti les hingga malam. Kondisi ini membuat ruang refleksi dan ruang diskusi menjadi semakin terbatas,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya bagi pelajar untuk memiliki prinsip hidup serta pemahaman yang kuat mengenai identitas dirinya sebagai generasi muda yang sedang menempuh proses pendidikan.

“Pelajar harus memiliki prinsip dan arah hidup yang jelas. Pendidikan adalah fondasi utama untuk membangun masa depan, sehingga setiap pelajar harus memiliki komitmen terhadap proses belajar dan pencapaian prestasi,” tambahnya.

Selain itu, Aqmaddin juga menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki kesadaran sosial dan tidak terjebak dalam pola pikir individualistik.

“Hidup yang baik bukan hanya tentang keberhasilan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sosialnya,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi berikutnya, pembahasan mengarah pada tantangan generasi muda di era digital. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat dinilai memberikan peluang besar bagi generasi muda, namun sekaligus menghadirkan tantangan berupa maraknya disinformasi, hoaks, serta polarisasi opini di ruang digital.

Para narasumber menekankan pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis bagi pelajar agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu mengolah informasi secara objektif dan menghasilkan gagasan yang konstruktif.

“Pelajar harus berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar di media digital. Setiap informasi harus diverifikasi terlebih dahulu agar tidak terjebak dalam berita yang tidak berbasis fakta,” ungkap Bima Dharma dalam sesi diskusi.

Menurutnya, kemampuan memverifikasi informasi serta membangun argumen berbasis data merupakan fondasi penting dalam membangun kepemimpinan intelektual generasi muda.

Diskusi berlangsung secara interaktif dengan berbagai pertanyaan yang diajukan oleh peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA. Para peserta mengaku antusias karena kegiatan tersebut memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan gagasan, keresahan, serta pandangan mereka terhadap berbagai isu pendidikan dan sosial yang mereka hadapi.

Melalui kegiatan ini, PD PII Kota Surabaya berharap dapat membuka ruang dialog yang lebih luas bagi pelajar untuk mengembangkan pemikiran kritis, kepemimpinan, serta kepedulian sosial sejak dini.

Ke depan, PII Kota Surabaya juga berencana untuk melanjutkan program pendampingan pelajar dengan turun langsung ke sekolah-sekolah melalui kegiatan diskusi, pelatihan kepemimpinan, serta forum dialog yang melibatkan mahasiswa, akademisi, dan pemimpin muda.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat peran pelajar sebagai bagian penting dalam proses pembangunan bangsa, sekaligus menumbuhkan generasi muda yang kritis, berintegritas, serta memiliki kesadaran sosial yang tinggi dalam menentukan arah masa depan Indonesia.