HARIAN NEGERI - Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026), Meninggalkan kampung halaman demi merajut asa dan mengemban ilmu di tanah rantau adalah jalan sunyi yang acap kali dipilih demi kelak membangun daerah tercinta. Nyala impian ini direngkuh erat oleh Moammar Naufal (Amar), seorang mahasiswa di Jakarta yang melabuhkan langkahnya jauh dari ujung barat Nusantara, Aceh.
Bagi seorang pejuang ilmu di perantauan, gema takbir menjelang Hari Raya Idulfitri selalu berhasil memantik rindu yang mendalam untuk ingin kembali menjejakkan kaki di tanah kelahiran.
Menurut Amar, bahwa pada dasarnya, mudik adalah tradisi berbondong-bondong pulang ke kampung halaman sebelum waktu Lebaran tiba. Namun, bagi Amar, perjalanan pulang ini memiliki pendar makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar melintasi batas-batas kota.
“Bagi saya sebagai mahasiswa perantauan, mudik adalah ruang untuk merawat silaturahmi dan mempererat simpul persaudaraan antar keluarga,” ungkap Amar saat menguraikan pandangannya tentang tradisi tahunan ini.
Ketika ditanya mengenai dorongan batin yang menjadikan mudik seakan sebuah keharusan, Amar menekankan pada kelangkaan dan magisnya momen tersebut.
“Karena hanya di momen Lebaran-lah kepingan-kepingan keluarga besar dapat menyatu dan berkumpul bersama. Ini adalah detik-detik yang paling dinantikan di setiap putaran tahun, sekaligus momen untuk ikut melestarikan tradisi luhur yang masih dihidupkan di daerah tercinta,” ucapnya.
Bentang jarak dari megahnya Jakarta menuju ujung Aceh tentu bukanlah sejengkal jalan. Ia menuntut ketabahan raga dan batin untuk menempuhnya. Amar pun membagikan mozaik kenangan tentang perjalanan pulangnya yang begitu membekas. Pengalaman pertama kali ia membelah jarak melalui jalur darat.
“Saya pulang via darat dari Jakarta ke Aceh, memakan waktu hingga tiga hari tiga malam,” ceritanya.
Dia juga menjelaskan bahwa dirinya melewati puluhan jam yang melelahkan, mengarungi aspal yang membentang dari Pulau Jawa hingga tanah Sumatera tentu menguras peluh. Namun, Amar memilih untuk merengkuh sisi manis dari perjalanannya.
“Saya banyak menyesap hal baru dari setiap kilometer jalanan yang terlewati, yang tentunya akan mengendap menjadi cerita di kemudian hari. Gejolak penantian saat dalam perjalanan pulang itu sebenarnya adalah wujud kerinduan untuk memutar kembali memori masa kecil di pelataran rumah tercinta,” tutup Amar.
Kisah Moammar Naufal hanyalah satu dari ribuan senandung rindu mahasiswa perantauan di ibu kota. Lelahnya pengembaraan panjang dan beratnya perjuangan menuntut ilmu seakan luruh tak bersisa, seketika sirna tatkala mata kembali menatap gurat wajah keluarga, merajut ulang kehangatan persaudaraan di bawah atap kampung halaman.


Komentar